PBNU Gelar Munas dan Konbes 2026 di Kediri
"Munas dan Konbes ini pembahasannya adalah menyangkut masalah-masalah dunia, menyangkut waqi'iyah, qanuniyah, dan maudlu'iyyah.
Sekaligus nanti membahas tentang organisasi, kemudian komisi rekomendasi, program, dan lain-lain yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia," kata KH Ahmad Said Asrori.
>>> Kisah Gila Dennis Dargahi: Tes DNA hingga Ganti Nama Demi Bela Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Melalui musyawarah tertinggi satu tingkat di bawah muktamar ini, PBNU menargetkan lahirnya keputusan-keputusan yang berdampak positif secara luas.
"Harapannya Munas Konbes ini berjalan semuanya dengan baik, dengan gembira, bahagia, dan tentu yang kita harapkan adalah menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat khususnya bagi warga NU, warga pondok pesantren, warga Indonesia semuanya," ujar KH Ahmad Said Asrori.
Perbedaan Munas dan Konbes
Secara struktural, Munas dan Konbes merupakan dua forum permusyawaratan yang berbeda dengan komposisi peserta tersendiri.
Munas dihadiri oleh unsur Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia, sedangkan Konbes diikuti oleh unsur Tanfidziyah PWNU dari 38 provinsi.
Sekretaris Steering Committee, KH Amin Said Husni, memaparkan fokus utama Munas yang lebih menitikberatkan pada persoalan hukum keagamaan, mulai dari realitas sosial hingga sikap terhadap regulasi.
"Munas membahas masalah diniyah atau keagamaan, baik yang sifatnya waqi'iyah, maudlu'iyyah maupun qanuniyah," ujar KH Amin Said Husni.
Sementara itu, Konbes memiliki kewenangan tersendiri dalam menyusun regulasi internal organisasi yang berada langsung di bawah AD/ART.
"Kalau AD/ART dibahas dan diputuskan serta ditetapkan oleh muktamar.
Sedangkan peraturan perkumpulan atau Perkum itu adalah regulasi yang dibahas dan ditetapkan di dalam Konbes ini," jelas KH Amin Said Husni.
Sejarah dan Harapan
Sejarah mencatat forum ini kerap melahirkan keputusan besar sejak pertama kali digelar di Kaliurang pada 1981, termasuk penegasan hubungan Islam dan Pancasila di Situbondo pada 1983.
>>> Fokus Pemulihan Kesehatan, Moka ILLIT Kembali Hiatus dari Kegiatan Grup
Pada beberapa gelaran terakhir, forum ini juga menelurkan Fikih Disabilitas (2017), status kesetaraan non-Muslim dalam negara bangsa (2019), hingga pembatasan kecerdasan buatan dalam rujukan beragama (2023).
Update Terbaru
MA AS Tolak Perintah Trump Akhiri Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran
Rabu / 01-07-2026, 09:36 WIB
Manuel Neuer Pensiun dari Timnas Jerman Usai Tersingkir di Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
MK Tolak Gugatan Dharma Pongrekun soal KLB dan Wabah di UU Kesehatan
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Digitalisasi Desa Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Teknologi Buka Peluang Usaha
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Norwegia Kalahkan Pantai Gading 2-1, Haaland Jadi Kunci Kemenangan
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Celine Evangelista Ajari Putrinya Salat, Warganet Soroti Status Mualaf Sang Anak
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
4 Zodiak Paling Beruntung pada 1 Juli 2026, Hoki Menanti di Awal Bulan
Rabu / 01-07-2026, 09:35 WIB
Perempuan Disabilitas Berdaya: Karya dari Daerah Tembus Panggung Jakarta
Rabu / 01-07-2026, 09:34 WIB
Aturan Minum Magnesium yang Benar agar Tak Mudah Stres dan Tidur Nyenyak di Usia 30-an
Rabu / 01-07-2026, 09:34 WIB
Psikolog Ungkap Alasan Remaja Sering Membantah, Bisa Jadi Tanda Positif
Rabu / 01-07-2026, 09:10 WIB
Arc Raiders Terapkan Denuvo Anti-Cheat untuk Semua Pemain, Embark Siapkan Pembaruan Lebih Besar
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Game Terakhir dari Art Director Half-Life 2 dan Dishonored Terungkap: Soulslike FPS Pertama di Dunia
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Trump Ungkap Pendapatan Kripto Lebih dari Rp15 Triliun
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Mike Tyson Rayakan Ultah ke-60 di Miami, Dunia Tinju Hormati Legenda
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB






