Maybank Sekuritas: Investor Global Masih Hati-Hati di Pasar Saham RI
Investor institusi global masih menunjukkan sikap hati-hati hingga pesimistis terhadap pasar saham Indonesia. Hal ini terungkap dari rangkaian kunjungan pemasaran Maybank Sekuritas ke Kuala Lumpur dan Singapura.
Dalam pertemuan dengan sekitar 10 investor institusi pekan ini, posisi mereka terhadap Indonesia berada pada tingkat netral hingga ringan.
>>> Investor Asing Borong Saham Gudang Garam Sepanjang Sepuluh Pekan
Namun, keyakinan untuk kembali menanamkan modal di pasar domestik masih sangat terbatas.
Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar minus 31,7 persen secara year-to-date membuat valuasi saham dalam negeri sangat murah.
Pelemahan rupiah yang melebihi 7 persen terhadap dolar AS turut membebani.
Faktor Makro Jadi Kecemasan Utama
Analis Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim, mengatakan beberapa investor mulai mencari waktu yang tepat untuk masuk kembali.
Namun, keyakinan masih rendah dan sebagian telah memindahkan alokasi dana ke pasar negara lain.
Faktor makro menjadi kecemasan utama, meliputi arah kebijakan fiskal, sikap Bank Indonesia, prospek nilai tukar rupiah, hingga risiko eksekusi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih.
Risiko eksternal juga membayangi, seperti peninjauan investabilitas oleh MSCI pada Juni, potensi penurunan status menjadi Frontier Market, serta tinjauan peringkat utang dari S&P pada Juli mendatang.
>>> Bareskrim Tetapkan Lima Tersangka TPPU Tambang Emas Ilegal, Tiga Sudah Ditahan
Kendati demikian, sejumlah langkah mitigasi pemerintah mulai mengurangi ketidakpastian.
Kebijakan suku bunga off-cycle Bank Indonesia, penyesuaian harga BBM non-subsidi, dan penerapan bertahap badan ekspor baru dinilai membantu.
Jeffrosenberg menambahkan bahwa langkah-langkah tersebut membantu mengurangi ketidakpastian kebijakan, meski investor masih menunggu kejelasan eksekusi.
Sektor Tambang Jadi Pilihan
Pada level sektoral, emiten pertambangan dengan pendapatan berbasis dolar AS dan eksposur regulasi rendah menjadi pilihan utama taktik buy on weakness.
Saham seperti ANTM, INCO, dan AMMN masuk dalam daftar incaran.
Sektor konsumer seperti ACES dan INDF juga dilirik karena menawarkan dividend yield sekitar 9 persen.
Namun, daya beli masyarakat masih dibayangi sentimen negatif dari pelemahan rupiah hingga maraknya judi online.
>>> Piala Dunia 2026 Hadirkan Delapan Pasangan Saudara Kandung Unik
"Fokus utama tetap pada saham tambang yang sudah terkoreksi berlebihan namun memiliki risiko regulasi relatif rendah serta eksposur dolar yang kuat," ujar Jeffrosenberg.
Update Terbaru
Kubu Reza Gladys Sebut Aksi Rieke Diah Pitaloka Bela Nikita Mirzani Langgar Konstitusi
Jumat / 03-07-2026, 07:00 WIB
Bentrokan Penggerebekan Narkoba di Katingan, Satu Polisi Gugur
Jumat / 03-07-2026, 07:00 WIB
147 Federasi Buruh Bersatu Tuntut UU Ketenagakerjaan Berkeadilan
Jumat / 03-07-2026, 06:57 WIB
Menteri Ekraf Dorong Brand Lokal Go Global Lewat Jakarta X Beauty 2026
Jumat / 03-07-2026, 06:56 WIB
Lima Browser Eropa Tawarkan Alternatif Privasi dan Kedaulatan Data
Jumat / 03-07-2026, 06:56 WIB
Cara Memahami Standing Instruction Bansos dan Jadwal Pencairan KKS Mandiri 2026
Jumat / 03-07-2026, 06:52 WIB
Sekai Project Rilis Visual Novel Jewelry Hearts Academia di Barat
Jumat / 03-07-2026, 06:35 WIB
Kyle Lowry Resmi Pensiun Bersama Toronto Raptors
Jumat / 03-07-2026, 06:35 WIB
Film Kompilasi Maebashi Witches Emoemories: Blooming Witches Tayang 23 Oktober di Jepang
Jumat / 03-07-2026, 06:31 WIB
Michael Weatherly Kembali ke NCIS untuk Arc Sepanjang Musim 24
Jumat / 03-07-2026, 06:31 WIB
Jack Smith Bicara Ancaman Dakwaan Federal di MS NOW
Jumat / 03-07-2026, 06:31 WIB
California Selatan Perketat Aturan Kembang Api Akibat Risiko Kebakaran
Jumat / 03-07-2026, 06:29 WIB
Trump Debuts Pesawat Air Force One Renovasi Rp6,4 Triliun, Perpustakaan Palsu Jadi Sorotan
Jumat / 03-07-2026, 06:29 WIB
Penumpang Gelisah Paksa Pendaratan Darurat Pesawat United Express
Jumat / 03-07-2026, 06:28 WIB






