Kementan Tetapkan Harga Acuan Ayam Hidup di Tiga Provinsi untuk Redam Gejolak Pasar

Kementan Tetapkan Harga Acuan Ayam Hidup di Tiga Provinsi untuk Redam Gejolak Pasar

ayam-pixabay-

Kementan Tetapkan Harga Acuan Ayam Hidup di Tiga Provinsi untuk Redam Gejolak Pasar

Kementerian Pertanian mengambil langkah koordinatif untuk meredam gejolak harga ayam hidup di tingkat peternak yang belakangan mengalami tekanan di sejumlah daerah.

Melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, pemerintah menggelar rapat koordinasi perunggasan nasional pada Selasa (7/4). Pertemuan tersebut melibatkan berbagai asosiasi peternak dan pelaku usaha sebagai upaya bersama menjaga stabilitas harga sekaligus keberlanjutan usaha perunggasan.

Harga Acuan Livebird Mulai Berlaku 8 April



Dari forum tersebut disepakati penetapan harga acuan ayam hidup (livebird) dengan bobot di atas 2 kilogram yang mulai berlaku pada Rabu (8/4/2026).

  • Jawa Tengah minimal Rp19.000 per kilogram
  • Jawa Timur minimal Rp19.500 per kilogram
  • Jawa Barat minimal Rp20.000 per kilogram

Kesepakatan harga tersebut akan dievaluasi dalam waktu dua hari untuk melihat dampaknya terhadap pergerakan pasar dan efektivitasnya dalam menstabilkan harga di tingkat peternak.

Pemerintah Perkuat Koordinasi dengan Pelaku Usaha

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Hary Suhada menjelaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan sektor perunggasan.


Menurutnya, komunikasi yang intensif menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan sekaligus memastikan kebijakan yang diambil berjalan efektif.

“Kami terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan,” kata Hary.

Pemantauan perkembangan di lapangan juga dilakukan secara berkala melalui laporan dari berbagai wilayah guna melihat kondisi harga dan pasokan secara langsung.

Kelebihan Pasokan Tekan Harga Pasca Lebaran

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Mukhlis Wahyudi menjelaskan tekanan harga livebird berkaitan dengan kondisi pasokan yang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan pasar.

Ia menilai situasi ini merupakan pola yang sering terjadi setiap tahun, terutama setelah periode Idulfitri.

“Kondisi ini tidak hanya karena oversupply, tetapi juga pola pasar yang berulang setiap tahun setelah Lebaran. Meskipun pasokan mulai terkendali, harga belum sepenuhnya pulih,” ujar Mukhlis.

Baca juga: Ini Faktor Utama yang Mendorong Kenaikan Harga Minyak Goreng di Pasar


Berita Lainnya