Perbandingan Aturan BBM Subsidi Indonesia dan Malaysia 2026 dari Kuota hingga Harga
bbm--
Kebijakan pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi mulai diterapkan di sejumlah negara seiring tekanan pasokan energi global. Indonesia dan Malaysia termasuk yang mengambil langkah serupa, meski dengan pendekatan yang berbeda.
Kedua negara sama-sama berupaya menjaga distribusi agar lebih tepat sasaran, namun aturan yang diterapkan memiliki perbedaan pada sistem kuota, harga, hingga mekanisme pengawasan.
Skema Pembatasan BBM di Indonesia
Pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan untuk jenis Pertalite dan Biosolar. Pengisian BBM subsidi kini harus menggunakan sistem barcode melalui aplikasi MyPertamina.
Untuk kendaraan pribadi roda empat, pembelian dibatasi maksimal 50 liter per hari. Jika dihitung dalam sebulan, jumlah konsumsi dapat mencapai sekitar 1.500 liter.
Kebijakan ini hanya berlaku untuk kendaraan pribadi, sementara kendaraan umum seperti bus dan truk tidak termasuk dalam pembatasan tersebut.
Aturan BBM Subsidi di Malaysia
Malaysia juga membatasi penggunaan BBM subsidi, khususnya bensin RON 95. Namun, batas yang diterapkan jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.
Pemerintah setempat menetapkan kuota sebesar 200 liter per bulan untuk setiap pengguna. Jika dirata-rata, konsumsi harian hanya sekitar 6,5 liter.
Harga BBM subsidi tetap dipertahankan sekitar 1,99 ringgit per liter. Namun, jika penggunaan melebihi kuota, pembelian dikenakan harga nonsubsidi yang lebih tinggi, yakni sekitar 3,87 ringgit per liter.
Kuota Tambahan untuk Pengemudi Transportasi Online
Pemerintah Malaysia memberikan perlakuan khusus bagi pengemudi layanan transportasi berbasis aplikasi. Pengemudi yang memenuhi syarat dapat memperoleh kuota BBM subsidi hingga 800 liter per bulan.
Kebijakan ini ditujukan untuk mendukung operasional transportasi perkotaan yang bergantung pada layanan digital.
Perbedaan Pendekatan Kedua Negara
Indonesia menerapkan batas harian yang relatif besar dengan pengawasan berbasis sistem digital. Fokus kebijakan berada pada kontrol distribusi agar tidak disalahgunakan.
Sementara itu, Malaysia memilih pendekatan kuota bulanan yang lebih ketat disertai sistem harga bertingkat. Konsumsi di atas batas tetap diperbolehkan, namun dengan tarif yang lebih tinggi.
Strategi Menjaga Subsidi Energi
Perbedaan kebijakan ini menunjukkan cara masing-masing negara dalam menjaga stabilitas energi dan anggaran. Indonesia mengutamakan pengendalian distribusi, sedangkan Malaysia menekankan pembatasan konsumsi melalui kuota dan harga.
Kedua langkah tersebut bertujuan memastikan subsidi BBM tetap tepat sasaran di tengah ketidakpastian pasokan energi global.