Kisah Radio Wijang Songko yang Kini Resmi Berhenti Siaran setelah 6 Dekade Temani Penggemar

Kisah Radio Wijang Songko yang Kini Resmi Berhenti Siaran setelah 6 Dekade Temani Penggemar

Radio wijang songko kediri--

Radio Wijang Songko (RWS) di Kediri resmi menghentikan aktivitas siarannya mulai 1 April 2026. Keputusan ini sekaligus menutup perjalanan panjang radio yang telah hadir sejak 1968.

Pada awal berdirinya, stasiun ini dikenal dengan nama Radio Pattimura dan mengudara melalui frekuensi AM. Seiring perkembangan teknologi penyiaran, RWS beralih ke FM pada dekade 1990-an dan terus bertahan dengan berbagai program hiburan yang akrab di telinga pendengar.



Manager RWS, Lindawati, menjelaskan bahwa penghentian siaran bukan keputusan yang diambil secara tiba-tiba. Pembahasan sudah muncul sejak masa pandemi Covid-19, namun baru dipastikan pada awal tahun ini.

“Mulai 1 April kami resmi tidak mengudara. Keputusan ini terkait kepemilikan tunggal, dan pimpinan kami, Bapak Pintero Utomo yang kini berusia 83 tahun, memilih untuk pensiun,” ujarnya.

Meski demikian, peluang untuk kembali mengudara di masa mendatang masih terbuka, meski belum ada kepastian waktu.


Koordinator siaran RWS, Asti Wibowo, menyebut kekuatan radio ini terletak pada program hiburan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejumlah acara seperti Hello Dangdut, Pamor, hingga Pak Piket menjadi pilihan utama lintas generasi.

Program Pak Piket sendiri hadir pada malam hari, menyasar pekerja shift, penjaga warung, hingga masyarakat yang masih beraktivitas. Sementara siaran pagi menjadi pengiring rutinitas awal pendengar.

Selain menghadirkan hiburan, RWS juga dikenal sebagai tempat lahirnya banyak penyiar dengan karakter khas. Lingkungan kerja yang cair membuat para penyiar leluasa mengembangkan gaya siaran yang kemudian dikenal luas.

Nama Wijang Songko diambil dari bahasa Jawa yang berarti putih bersih. Makna tersebut mencerminkan semangat awal radio dalam menghadirkan siaran yang jernih dan menghibur.

Dalam perjalanannya, RWS juga aktif menggelar kegiatan di luar studio. Acara seperti jalan sehat hingga kuis interaktif pernah melibatkan masyarakat dari berbagai daerah, termasuk Kediri, Nganjuk, Tulungagung, dan Trenggalek.

Penutupan siaran ini meninggalkan kesan tersendiri bagi pendengar. Salah satunya Tata Tomato yang mengaku kehilangan teman yang selama ini menemani aktivitas hariannya.

“Sedih, biasanya selalu ada dari pagi sampai sore menemani di rumah,” ujarnya.


BERITA TERKAIT

Berita Lainnya