IHSG Turun Lebih dari 3 Persen di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Gejolak Global
saham-pixabay-
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan awal pekan dengan tekanan cukup tajam. Hingga pukul 09.56 WIB pada Senin (9/3/2026), indeks melemah 257,47 poin atau sekitar 3,39 persen ke posisi 7.328,21.
Penurunan tersebut sebenarnya sempat lebih dalam pada awal sesi perdagangan. Sesaat setelah pasar dibuka, IHSG sempat terperosok hingga sekitar 5 persen dan menyentuh level 7.156,68 sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahannya.
Tekanan Global Serentak Tekan Bursa Asia
Koreksi yang dialami pasar saham Indonesia tidak terjadi secara terpisah. Sejumlah bursa di kawasan Asia juga bergerak melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus mendorong pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang, yang pada akhirnya menekan selera risiko investor di pasar global.
Indeks saham negara berkembang yang dipantau MSCI tercatat sempat turun hingga 4,2 persen pada perdagangan Senin. Koreksi ini memperpanjang tren penurunan indeks yang kini telah melampaui 10 persen dari posisi tertingginya pada akhir Februari.
Kospi Ikut Terkoreksi Tajam
Tekanan juga terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi yang sebelumnya mencatat kinerja kuat sepanjang tahun ini kini telah merosot lebih dari 18 persen dari puncaknya.
Pelemahan tersebut dipicu penurunan saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi penopang utama indeks.
- Samsung Electronics Co.
- SK Hynix Inc.
- Hyundai Motor Co.
Aksi jual yang meluas terjadi ketika investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di tengah ketidakpastian global.
Mata Uang Emerging Market Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Di pasar valuta asing, indeks mata uang negara berkembang versi MSCI juga tercatat turun sekitar 0,8 persen.
Pelemahan paling menonjol terjadi pada won Korea Selatan, sementara peso Filipina dan rupiah Indonesia juga tercatat menyentuh posisi terendah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat seiring lonjakan harga minyak yang menembus level US$100 per barel. Kenaikan harga energi tersebut mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian 9 Maret 2026 Stabil, Galeri 24 dan UBS Tidak Berubah