close ads x

Viral Pernyataan Mba Saset: Cukup Saya WNI Anak Jangan, Psikiater Soroti Kebutuhan Validasi di Media Sosial

Viral Pernyataan Mba Saset: Cukup Saya WNI Anak Jangan, Psikiater Soroti Kebutuhan Validasi di Media Sosial

Saset-Instagram-

Pernyataan “cukup saya WNI, anak jangan” yang diunggah seorang alumni penerima beasiswa LPDP berinisial DS menjadi sorotan publik. Video tersebut memperlihatkan dirinya membuka paket berisi surat dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi memperoleh kewarganegaraan Inggris beserta paspornya.

Dalam video itu, DS menyebut dokumen tersebut akan mengubah masa depan anak-anaknya. Ia kemudian menyampaikan pernyataan yang memicu perdebatan di media sosial terkait pilihan kewarganegaraan bagi anak.

Unggahan yang Memantik Reaksi



DS menunjukkan surat resmi dari otoritas Inggris yang menyatakan anaknya diterima sebagai warga negara Inggris. “Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris,” ujarnya dalam video tersebut.

Pernyataan lanjutan yang menyebut keinginannya agar anak-anak memiliki paspor asing memicu beragam respons warganet, mulai dari dukungan hingga kritik tajam.

Psikiater Singgung Haus Validasi

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai fenomena ini dapat dilihat dari dinamika psikologis di balik kebiasaan membagikan hal pribadi di ruang digital. Menurutnya, salah satu faktor yang kerap muncul adalah kebutuhan akan validasi sosial.


Ia menjelaskan bahwa otak manusia secara biologis merespons interaksi sosial. Respons berupa tanda suka, komentar, dan bagikan di media sosial dapat memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa senang sementara.

“Otak manusia mendapat dopamin dari respons sosial seperti like, komentar, dan share. Ini membuat individu terdorong membagikan hal-hal yang sifatnya pribadi,” kata dr Lahargo.

Media Sosial sebagai Ruang Ekspresi Identitas

Selain validasi, media sosial juga kerap digunakan untuk menunjukkan identitas diri, nilai, maupun cara pandang terhadap dunia. Dalam konteks isu kewarganegaraan dan masa depan anak, unggahan dapat menjadi simbol aspirasi, kecemasan, hingga proyeksi harapan pribadi.

Ia juga menyoroti bahwa sebagian orang menjadikan media sosial sebagai sarana regulasi emosi. Aktivitas yang dulu dilakukan melalui catatan pribadi kini berpindah ke ruang publik dengan harapan mendapat pemahaman dari orang lain.

“Sebagian orang menulis di medsos untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, tapi ini dilakukan di ruang publik. Kadang yang diposting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami,” ujarnya.

Perlu Pertimbangan Jangka Panjang

Meski media sosial dapat menjadi ruang ekspresi, dr Lahargo mengingatkan bahwa platform digital bukan tempat pemulihan psikologis. Ia menyarankan setiap orang mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mengunggah konten sensitif.

Salah satu cara sederhana adalah membayangkan apakah unggahan tersebut masih terasa nyaman dilihat lima tahun mendatang. Pertimbangan ini dinilai penting agar setiap konten yang dibagikan tetap bijak dan tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Sumber:

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya