Eks Eksekutif Google Nilai Gelar Hukum dan Kedokteran Berisiko Tertinggal di Era AI
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berlangsung cepat memicu perdebatan baru soal relevansi pendidikan tinggi. Seorang mantan eksekutif Google menilai gelar profesional seperti hukum dan kedokteran berisiko kehilangan daya saing jika tidak beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Jad Tarifi, pendiri tim AI generatif pertama di Google sekaligus pemegang gelar doktor bidang AI, menyampaikan pandangannya bahwa jalur pendidikan panjang bisa membuat lulusannya tertinggal dari perkembangan industri.
"AI sendiri akan hilang saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu," ujar Tarifi.
Menurutnya, program pendidikan yang memakan waktu hingga hampir satu dekade, seperti dokter dan pengacara, berpotensi membuat lulusan memasuki dunia kerja dengan pengetahuan yang sudah tidak relevan. Ia menilai sistem pembelajaran saat ini masih terlalu menitikberatkan pada hafalan dibandingkan pengembangan keterampilan adaptif.
Pendidikan Perlu Berubah
Tarifi juga menyoroti gelar akademik lanjutan seperti PhD. Ia menilai percepatan inovasi di bidang AI membuat nilai tambah gelar tersebut semakin dipertanyakan jika kurikulum tidak diperbarui secara dinamis.
"Keberhasilan di masa depan tidak akan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif yang unik, kesadaran emosional, dan hubungan antarmanusia yang kuat," katanya.
Ia mendorong generasi muda untuk mengasah kemampuan yang sulit digantikan mesin, seperti empati, komunikasi interpersonal, serta kecerdasan emosional. Keterampilan tersebut dinilai lebih tahan terhadap disrupsi teknologi dibanding sekadar penguasaan teori.
Pernyataan ini muncul di tengah diskusi luas di kalangan industri teknologi mengenai perlunya reformasi sistem pendidikan. Sejumlah pelaku industri menilai universitas perlu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja yang berubah cepat akibat otomatisasi dan AI.
Perdebatan tersebut menandai babak baru hubungan antara dunia akademik dan perkembangan teknologi, di mana relevansi keterampilan menjadi faktor kunci dalam menentukan daya saing lulusan di masa depan.
Update Terbaru
VPN Online Gratis dan Aman 2026: Cara Buka Situs Terblokir Tanpa Aplikasi
Minggu / 31-05-2026, 23:31 WIB
Jadwal dan Link Live Streaming Timnas Indonesia U-19 vs Myanmar di Piala AFF U-19 2026
Minggu / 31-05-2026, 23:30 WIB
Dolar Melejit, Ini 5 HP Paling Worth It di 2026, Ada yang Cuma Rp1 Jutaan
Minggu / 31-05-2026, 23:29 WIB
Manfaat Sertifikat TKA 2026 untuk Daftar SPMB dan Jenjang Pendidikan
Minggu / 31-05-2026, 23:29 WIB
Resmi, Patung Mbah Belet Bakal Dikeluarkan dari Museum Saat Waisak 2026 di Borobudur
Minggu / 31-05-2026, 23:29 WIB
Update Harga HP Baru Rilisan 2026 dari Berbagai Merek Mulai Rp1 Jutaan
Minggu / 31-05-2026, 23:24 WIB
BMKG Peringatkan Gelombang Hingga 4 Meter, Pelayaran Diminta Waspada
Minggu / 31-05-2026, 23:24 WIB
5 Rekomendasi Kuliner Dekat Malioboro dan Tugu Jogja Terbaru 2026 yang Wajib Dicoba
Minggu / 31-05-2026, 23:24 WIB
23 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Mei 2026, Spesial Akhir Pekan Banjir Rank Up Koin
Minggu / 31-05-2026, 23:19 WIB
Alasan PSG dan Arsenal Gagal Dapat Penalti di Final Liga Champions 2026
Minggu / 31-05-2026, 23:19 WIB
5 Fakta Mengejutkan Jelang Fajar/Fikri di Final Singapore Open 2026
Minggu / 31-05-2026, 23:19 WIB
38 Kode Redeem FF Terbaru 31 Mei 2026: Klaim SG2 Golden dan MP40 Cobra
Minggu / 31-05-2026, 23:14 WIB
Resmi Gabung Barcelona Rp1,49 T, Anthony Gordon Buat Pengakuan Mengejutkan
Minggu / 31-05-2026, 23:14 WIB
Start P13 di Moto3 Italia 2026, Veda Ega Pratama Optimis dengan Strategi Khusus
Minggu / 31-05-2026, 23:14 WIB






