Indonesia Jadi Negara Pertama Siapkan Pasukan Perdamaian ke Gaza
gaza-pixabay-
Rencana Indonesia mengerahkan ribuan prajurit Tentara Nasional Indonesia ke Jalur Gaza menarik perhatian internasional. Sejumlah media asing menyoroti langkah tersebut karena Indonesia disebut menjadi negara pertama yang bersiap menurunkan pasukan ke wilayah konflik itu.
Jumlah personel yang disiapkan berkisar antara 5.000 hingga 8.000 orang. Mereka direncanakan bergabung dalam misi perdamaian di tengah proses gencatan senjata yang sedang berjalan.
TNI AD Mulai Persiapan Internal
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyatakan jajaran TNI AD telah memulai persiapan. Proses itu dilakukan sambil menunggu arahan lebih lanjut dari Mabes TNI terkait kebutuhan spesifik personel.
"Ya, itu kan masih terus berjalan ya. Jadi kan kami menunggu dari hasil koordinasi yang mengoordinir di Gaza. Nanti ke Mabes TNI. Mabes TNI nanti ke Mabes AD memerlukan pasukan personel yang berkarakter apa. Ini kami siapkan. Ya, begitu," kata Maruli di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Menurut dia, pelatihan difokuskan pada satuan yang lazim terlibat dalam misi perdamaian, seperti korps zeni dan tenaga kesehatan. Keduanya dinilai relevan untuk mendukung kebutuhan kemanusiaan serta rekonstruksi di wilayah terdampak konflik.
"Sudah, sudah mulai berlatih orang-orang yang kemungkinan kan kita nanti jadi perdamaian. Jadi berarti (korps) zeni, kesehatan, yang sering seperti itu (bertugas pasukan perdamaian), kami siapkan," ujarnya.
Ia menegaskan, kewenangan TNI AD saat ini sebatas menyiapkan pasukan. Keputusan akhir mengenai penugasan dan waktu keberangkatan berada pada tingkat komando yang lebih tinggi.
Tunggu Keputusan Presiden
Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita menyebut pengalaman Indonesia dalam misi pasukan perdamaian PBB menjadi modal utama. Personel yang direkrut akan berasal dari satuan yang pernah bertugas dalam misi serupa.
"Saya kira kita udah punya pengalaman ya, ada UNIFIL yang pernah ke sana, satuan-satuan yang pernah dikirim ke sana, inilah nanti yang akan kita rekrut," katanya di Kompleks Parlemen, Selasa (10/2).
Dari sisi pemerintah, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan pembahasan masih berlangsung. Ia menyebut angka yang dipertimbangkan mendekati 8.000 personel, namun belum ada keputusan final.
"Belum, sedang dibicarakan. Tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000 itu," ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia akan bergabung dengan pasukan perdamaian dari negara lain apabila kesepakatan internasional tercapai.
Fokus Kemanusiaan dan Rekonstruksi
Kementerian Luar Negeri menegaskan keterlibatan Indonesia diarahkan pada bantuan kemanusiaan, dukungan rekonstruksi, serta menjaga pelaksanaan gencatan senjata.
"Kalau untuk keterlibatan Indonesia sudah dijelaskan bahwa lebih fokus pada humanitarian (kemanusiaan), bantuan rekonstruksi, sama untuk mendukung gencatan senjata," kata Juru Bicara II Kemlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela.
Ia menambahkan, persiapan memang dilakukan, namun jadwal pengiriman maupun jumlah akhir personel belum ditetapkan.
"Kalau untuk proses persiapan, memang Indonesia melakukan persiapan tersebut. Mengenai timeline, ini belum ada yang definitif. Jumlah juga belum definitif," ujarnya.
Jadi Sorotan Media Global
Langkah Indonesia ini ramai diberitakan media internasional, termasuk media Israel dan Inggris. Mereka menyebut Indonesia sebagai negara pertama yang berkomitmen secara konkret untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa hingga kini belum ada negara lain yang beralih dari komitmen umum ke kesiapan pengerahan pasukan secara nyata.
Di dalam negeri, pemerintah menegaskan komitmen Indonesia terhadap pengakuan kemerdekaan Palestina dan dukungan terhadap stabilitas kawasan. Keterlibatan dalam misi perdamaian disebut sebagai bagian dari komitmen tersebut.