Nonton Download Film Mercy (2026) Sub Indo Dibintangi Chris Pratt di Bioskop Bukan LK21: Ketika Keadilan Dikuasai AI, Bisakah Manusia Mendapatkan Belas Kasih?

Nonton Download Film Mercy (2026) Sub Indo Dibintangi Chris Pratt di Bioskop Bukan LK21: Ketika Keadilan Dikuasai AI, Bisakah Manusia Mendapatkan Belas Kasih?

Mercy-Instagram-


Nonton Download Film Mercy (2026) Sub Indo Dibintangi Chris Pratt di Bioskop Bukan LK21: Ketika Keadilan Dikuasai AI, Bisakah Manusia Mendapatkan Belas Kasih?

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, bayangan masa depan di mana kecerdasan buatan (AI) menggantikan peran manusia dalam sistem peradilan bukan lagi sekadar khayalan fiksi ilmiah. Film Mercy (2025), yang dibintangi oleh aktor ternama Chris Pratt, membawa penonton menyelami realitas distopia tersebut dengan narasi tegang, penuh misteri, dan pertanyaan filosofis tentang hakikat keadilan, ingatan, serta belas kasih.



Latar Dunia Tanpa Hakim Manusia
Berlatar di Los Angeles tahun 2029, Mercy menggambarkan sebuah dunia di mana sistem peradilan tradisional telah sepenuhnya runtuh dan digantikan oleh algoritma canggih berbasis AI. Di era ini, tidak ada lagi hakim berjubah hitam, jaksa penuntut umum, atau pengacara pembela. Semua putusan hukum—dari pelanggaran lalu lintas hingga kasus pembunuhan—ditentukan secara instan oleh sistem kecerdasan buatan yang menganalisis data biometrik, riwayat digital, pola perilaku, hingga probabilitas kriminal seseorang.

Sistem ini dipuji sebagai “netral”, “efisien”, dan “bebas korupsi”. Namun, di balik klaim objektivitas itu, tersimpan bahaya laten: ketiadaan empati, ketidakmampuan memahami konteks manusia, dan potensi kesalahan fatal yang tak bisa dikoreksi karena tidak ada ruang untuk banding atau pertimbangan moral.

Chris Raven: Detektif yang Jadi Tersangka
Tokoh utama film ini adalah Chris Raven (diperankan oleh Chris Pratt), seorang detektif veteran yang dulunya merupakan salah satu pendukung paling vokal dari sistem peradilan berbasis AI. Ia percaya bahwa teknologi bisa membersihkan sistem hukum dari bias, nepotisme, dan manipulasi politik. Namun, keyakinannya itu diuji secara brutal ketika ia tiba-tiba terbangun di sebuah ruang sidang futuristik yang dingin dan steril.


Tanpa proses penangkapan, tanpa interogasi, bahkan tanpa ingatan akan kejadian malam itu, Raven dihadapkan pada dakwaan mengerikan: ia dituduh membunuh istrinya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, sistem AI telah menghitung probabilitas bersalahnya mencapai 98,7%—angka yang cukup untuk menjatuhkan vonis mati tanpa perlu bukti fisik konklusif.

Yang membuat situasi semakin mencekam, Raven sama sekali tidak ingat apa yang terjadi pada malam pembunuhan itu. Apakah ia benar-benar pelakunya? Ataukah sistem AI telah salah menginterpretasikan data—atau bahkan diretas?

Perlombaan Melawan Waktu dan Mesin
Dengan waktu yang sangat terbatas sebelum eksekusi otomatis dijalankan, Raven harus berjuang melawan sistem yang ia sendiri pernah percayai. Ia mulai menyusuri jejak digitalnya sendiri—rekaman kamera pengawas, riwayat panggilan, data lokasi ponsel, hingga aktivitas media sosial—dalam upaya merekonstruksi kejadian malam itu.

Namun, setiap langkah yang ia ambil diawasi oleh Judge Maddox, AI pengadil yang menjadi personifikasi dari sistem hukum baru. Maddox tidak hanya cerdas, tetapi juga dingin, logis, dan tanpa kompromi. Bagi Maddox, “belas kasih” (mercy) hanyalah variabel emosional yang tidak relevan dalam perhitungan keadilan.

Di sinilah inti konflik film ini terletak: apakah keadilan bisa benar-benar adil tanpa belas kasih? Dan bisakah manusia, dengan segala kelemahan memorinya, membuktikan kebenaran di hadapan mesin yang hanya percaya pada data?

Tema Mendalam di Balik Aksi Fiksi Ilmiah
Mercy bukan sekadar film aksi thriller futuristik. Di balik visual futuristik dan narasi serba cepat, film ini mengangkat isu-isu aktual yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini: etika penggunaan AI dalam kehidupan publik, privasi data, serta bahaya otoritarianisme digital. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Siapa yang bertanggung jawab jika AI salah?” atau “Apakah algoritma bisa memahami nuansa emosi manusia?” menjadi benang merah yang terus menghantui penonton sepanjang film.

Selain itu, karakter Chris Raven juga menjadi representasi paradoks modern: manusia yang terlalu percaya pada teknologi hingga lupa bahwa nilai-nilai kemanusiaan—seperti keraguan, pengampunan, dan rasa bersalah—tidak bisa direduksi menjadi angka.

Performa Chris Pratt dan Dunia Visual yang Memukau
Chris Pratt, yang biasa dikenal lewat peran-peran heroik atau komedi, kali ini menunjukkan kedalaman akting yang mengejutkan. Ia berhasil memerankan tokoh yang terjebak antara keputusasaan, amarah, dan harapan—semua dalam diam, tatapan, dan gerakan tubuh yang minimalis namun penuh makna.

Ditambah dengan desain produksi futuristik yang detail—dari arsitektur gedung pengadilan yang menyerupai server raksasa hingga antarmuka digital yang interaktif—Mercy menciptakan atmosfer distopia yang kredibel dan menghantui.

Relevansi Sosial dan Potensi Diskusi Publik
Film ini datang di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang penggunaan AI dalam sistem peradilan, seperti algoritma prediktif di Amerika Serikat atau sistem pengenalan wajah di China. Mercy menjadi cermin kritis yang mengingatkan kita: teknologi seharusnya melayani manusia, bukan menggantikannya—apalagi dalam hal yang paling sakral: menentukan nasib seseorang.

Bagi penonton Indonesia, film ini juga relevan dalam konteks diskusi tentang transparansi hukum, reformasi peradilan, dan perlindungan data pribadi—isu yang semakin hangat seiring dengan maraknya platform digital dan regulasi seperti UU PDP (Perlindungan Data Pribadi).

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya