Profil Ulta Levenia Disorot Usai Paparkan 20 Poin Rencana Perdamaian Gaza dari Board of Peace
Ulta-Instagram-
Nama Ulta Levenia tengah menjadi perbincangan di ruang publik setelah memaparkan 20 poin rencana perdamaian Gaza yang digagas Board of Peace (BoP). Penjelasan tersebut menuai beragam tanggapan, terutama di media sosial.
Ulta saat ini menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP). Posisi tersebut menempatkannya dalam lingkaran strategis pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Perdebatan muncul setelah Ulta menguraikan sejumlah poin dari rencana perdamaian tersebut. Sebagian pihak menilai gagasan yang dipaparkan perlu dikaji lebih jauh mengingat kompleksitas konflik geopolitik di Timur Tengah.
Latar Belakang Akademik di Bidang Keamanan
Ulta Levenia memiliki latar belakang akademik di bidang hubungan internasional dan keamanan global. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Indonesia pada jurusan Hubungan Internasional.
Bidang tersebut memberinya dasar analisis terhadap dinamika politik internasional, termasuk konflik antarnegara dan proses diplomasi global.
Minat pada isu keamanan kemudian membawanya melanjutkan studi ke Inggris. Ia meraih gelar master dari University of Leeds dengan konsentrasi Terrorism, Security, and Policing.
Spesialisasi ini menempatkannya sebagai salah satu analis yang fokus pada isu terorisme, keamanan internasional, serta dinamika konflik yang melibatkan aktor negara maupun nonnegara.
Karier dan Kiprah di Lingkar Pemerintahan
Sebelum menjabat di Kantor Staf Presiden, Ulta dikenal aktif menyampaikan analisis terkait kebijakan pertahanan dan dinamika geopolitik.
Sejumlah pandangannya menunjukkan dukungan terhadap kebijakan yang ditempuh Prabowo Subianto, termasuk ketika Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Pada September 2025, Ulta sempat hadir dalam podcast Close the Door yang dipandu Deddy Corbuzier. Dalam kesempatan tersebut, ia menilai kepemimpinan Prabowo mencerminkan keberanian menghadapi tekanan kekuatan asing.
Menurutnya, sikap tersebut penting bagi Indonesia dalam menjaga kedaulatan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Penjelasan Soal Rencana Perdamaian Gaza
Belakangan, Ulta menjelaskan isi 20 poin rencana perdamaian Gaza yang disusun Board of Peace. Paparan itu disampaikan sebagai bagian dari penjelasan mengenai dasar keterlibatan Indonesia dalam inisiatif tersebut.
Ia mengingatkan publik agar menilai isu tersebut secara objektif dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.
Menurutnya, setiap analisis terhadap kebijakan internasional harus mempertimbangkan seluruh konteks yang ada serta membaca secara menyeluruh setiap poin yang disampaikan.
Baca juga: Reza Arap Mundur Sementara dari Marapthon karena Stres Berat