Trump Kembali Bikin Pernyataan Kontroversial Usai Ambil Alih Venezuela: AS Harus Kuasai Greenland Sebelum Diambil Rusia atau China
Donald trump-Instagram-
Meski demikian, kedua pernyataan tersebut mencerminkan pola berpikir Trump yang konsisten: menggunakan narasi ancaman eksternal (Rusia, Tiongkok, atau rezim otoriter) untuk membenarkan intervensi AS di panggung global. Pendekatan ini kerap menuai kritik karena dianggap meremehkan prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.
Apa Arti Semua Ini bagi Kebijakan Luar Negeri AS?
Meski Trump kini bukan lagi menjabat, pengaruhnya terhadap arah kebijakan luar negeri AS tetap signifikan. Banyak anggota Partai Republik yang mulai mengadopsi retorika serupa, terutama terkait persaingan strategis dengan Tiongkok dan Rusia. Bahkan, Gedung Putih di bawah administrasi saat ini juga telah meningkatkan fokus pada kawasan Arktik, meski dengan pendekatan yang lebih diplomatis.
Namun, upaya untuk “menguasai” Greenland—baik melalui tekanan ekonomi, militer, atau politik—diprediksi akan menghadapi banyak hambatan. Selain resistensi dari Denmark dan rakyat Greenland sendiri, langkah semacam itu juga berpotensi memicu eskalasi ketegangan dengan Tiongkok dan Rusia, yang justru bisa memperburuk stabilitas global.
Penutup: Antara Realitas dan Retorika Politik
Pernyataan Trump tentang Greenland mungkin terdengar dramatis, tetapi di baliknya terdapat kekhawatiran nyata tentang pergeseran kekuatan global di abad ke-21. Arktik, yang dulu dianggap sebagai wilayah terpencil, kini menjadi medan pertarungan baru bagi hegemoni geopolitik. Namun, solusi yang menghormati kedaulatan, hak asasi manusia, dan hukum internasional tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga perdamaian dunia.
Sementara itu, publik global—terutama di Indonesia—dihimbau untuk kritis terhadap narasi-narasi politik yang mengedepankan dominasi militer atas dialog diplomatik. Di tengah ketidakpastian global, keseimbangan kekuatan harus dibangun bukan melalui ancaman, melainkan melalui kerja sama yang saling menguntungkan.