Syafiq Ridhan Ali Razan Anaknya Siapa? Inilah Biodata Pendaki yang Ditemukan Tewas di Gunung Slamet Usai 17 Hari Hilang, Bukan Orang Sembarangan?

Syafiq Ridhan Ali Razan Anaknya Siapa? Inilah Biodata Pendaki yang Ditemukan Tewas di Gunung Slamet Usai 17 Hari Hilang, Bukan Orang Sembarangan?

Syafiq-Instagram-

Syafiq Ridhan Ali Razan Anaknya Siapa? Inilah Biodata Pendaki yang Ditemukan Tewas di Gunung Slamet Usai 17 Hari Hilang, Bukan Orang Sembarangan?
Tragedi di Lereng Slamet: Pendaki Muda Syafiq Ali Ditemukan Tewas Setelah 17 Hari Pencarian Intensif

Dunia pendakian Tanah Air kembali berduka. Syafiq Ridhan Ali Razan (18), seorang pendaki muda asal Banyumas, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah menghilang selama 17 hari di kawasan Gunung Slamet, salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Penemuan jenazahnya pada Rabu pagi (14/1/2026) menjadi penutup tragis dari operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan puluhan relawan, tim SAR gabungan, dan komunitas pecinta alam dari berbagai daerah.



Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, melalui rekaman video yang tersebar luas di media sosial dan diterima oleh sejumlah awak media, termasuk detikJateng. “Kami sampaikan bahwa survivor atas nama Ali Syafiq telah diketemukan dalam kondisi MD (meninggal dunia),” ujarnya dengan suara lirih namun penuh kelegaan campur kesedihan.

Ditemukan di Jalur Terjal, Dekat Batu Watu Langgar
Syafiq ditemukan sekitar pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang—sebuah area terjal dan minim akses yang berada dalam kawasan administratif Gunung Slamet. Lokasi tepatnya berada di sekitar Batu Watu Langgar, wilayah yang dikenal sebagai rute alternatif namun jarang dilalui pendaki karena medannya yang ekstrem dan cuaca yang kerap berubah-ubah.

Penemuan ini merupakan hasil dari pencarian tahap kedua yang baru berlangsung selama dua hari. Namun, secara total, upaya pencarian telah berlangsung selama 17 hari sejak Syafiq dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat dan instansi terkait tak pernah menyerah, meski harus menghadapi tantangan cuaca buruk, medan curam, dan keterbatasan logistik.


“Survivor ditemukan sekitar pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar. Penemuan ini merupakan hasil pencarian hari ke-17, dengan tim SAR tahap dua yang baru melakukan pencarian selama dua hari,” jelas Sutrisno.

Solidaritas Komunitas Pecinta Alam yang Mengharukan
Salah satu hal yang patut diapresiasi dalam operasi penyelamatan ini adalah solidaritas luar biasa dari komunitas pencinta alam. Tak kurang dari sepuluh organisasi dan kelompok relawan turut serta dalam misi pencarian, termasuk Wanadri, Mayapada, UPL (Unit Pencinta Lingkungan), MPA Unsoed (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Jenderal Soedirman), Wikupala, ABGI (Asosiasi Basuki Gunung Indonesia), Mapala Batik, Mapala Kanpas, hingga Komunitas RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia).

“Alhamdulillah berkat kerja sama semua pihak yang ikut bergabung dalam sur gabungan yang ada... alhamdulillah didampingi oleh semua pihak yang alhamdulillah hari ini hadir dari Forkopimda maupun Forkopimcam Kecamatan Pulosari,” ungkap Sutrisno, mengulang ungkapan syukur yang mencerminkan betapa besar harapan yang akhirnya terjawab—meski dengan cara yang menyedihkan.

Keberadaan aparat daerah seperti Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) juga menunjukkan komitmen pemerintah lokal dalam menangani kasus darurat di wilayah pegunungan yang rawan bencana.

Misteri Hilangnya Syafiq dan Peringatan bagi Pendaki Pemula
Sebelum dinyatakan hilang, Syafiq diketahui memulai pendakian Gunung Slamet bersama sekelompok temannya pada akhir Desember 2025. Namun, di tengah perjalanan, ia terpisah dari rombongan—diduga akibat kabut tebal dan navigasi yang kurang tepat. Sejak saat itu, komunikasi dengannya terputus total.

Meski usianya masih sangat muda, Syafiq dikenal sebagai sosok yang bersemangat menjelajahi alam bebas. Namun, tragedi ini menjadi pengingat keras bagi para pendaki, terutama pemula: persiapan matang, pemahaman medan, dan koordinasi dengan pihak berwenang bukanlah hal opsional, melainkan keharusan mutlak.

Gunung Slamet, dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut, memang menawarkan panorama spektakuler. Namun, gunung ini juga menyimpan risiko besar—mulai dari cuaca ekstrem, medan licin, hingga potensi tanah longsor. Belum lagi, sinyal komunikasi yang sangat terbatas di banyak titik membuat evakuasi darurat menjadi tantangan tersendiri.

Baca juga: Pemerintah Buka Pintu Legalisasi Rokok Ilegal, Menkeu Siapkan Lapisan Tarif Baru pada 2026

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya