Keutamaan Dzikir dalam Perspektif Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad: Jalan Menuju Ketenangan Jiwa dan Kedekatan dengan Sang Pencipta
alquran-pixabay-
Rasulullah SAW pun pernah bersabda dalam sebuah hadits qudsi:
"Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tengah khalayak, Aku menyebutnya di khalayak yang lebih baik darinya."
Beliau juga menyatakan dalam sabdanya yang agung:
"Maukah aku beritahukan kepadamu amalan terbaikmu? Yang paling suci di sisi Tuhanmu, yang paling mengangkat derajatmu, yang lebih baik daripada sedekah emas dan perak, bahkan lebih baik daripada berperang hingga kau menebas leher musuh dan mereka menebasmu?"
Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah!"
Maka beliau berkata: "Yaitu berdzikir kepada Allah."
Dzikir: Obat Jiwa di Zaman Modern
Di era digital yang penuh distraksi, di mana pikiran mudah terpecah dan hati sering gelisah, ajaran Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad tentang dzikir menjadi obat spiritual yang relevan. Dzikir bukan hanya ibadah, tapi juga terapi jiwa, penenang pikiran, dan penguat iman.
Dengan kembali menghidupkan budaya dzikir—baik secara pribadi maupun berjamaah—umat Islam dapat menemukan ketenangan sejati yang tidak ditawarkan oleh dunia. Karena pada akhirnya, hati yang selalu ingat kepada Allah adalah hati yang tidak pernah kosong, tidak pernah takut, dan tidak pernah merasa sendiri.
Penutup: Jadikan Dzikir Napas Kehidupan
Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad mengajak kita semua untuk menjadikan dzikir sebagai napas kehidupan sehari-hari. Bukan hanya di waktu-waktu tertentu, tetapi dalam setiap langkah, setiap napas, dan setiap detik kehidupan. Karena dengan dzikir, kita tidak hanya mengingat Allah—tapi juga diingat oleh-Nya.
Dan siapa yang diingat oleh Allah, maka segala urusannya dipermudah, hatinya ditenangkan, dan jiwanya diterangi cahaya ilahi.
Wallahu a’lam bish-shawab.