iPhone 17 vs Ponsel China: Masih Layankah Membeli iPhone di Tengah Gempuran Inovasi dari Huawei, Xiaomi, dan Vivo?
iPhone SE 4.-(Apple)-
iPhone 17 vs Ponsel China: Masih Layankah Membeli iPhone di Tengah Gempuran Inovasi dari Huawei, Xiaomi, dan Vivo?
Di tengah hiruk-pikuk industri smartphone global, peluncuran iPhone 17 kembali menjadi sorotan utama. Namun, kali ini pertanyaannya bukan hanya soal fitur atau desain terbaru—melainkan apakah perangkat ikonik Apple ini masih worth it untuk dimiliki, mengingat pesatnya kemajuan teknologi yang ditawarkan oleh ponsel-ponsel asal China seperti Huawei, Xiaomi, dan Vivo?
Pertanyaan ini semakin relevan seiring munculnya berbagai inovasi ekstrem dari brand-brand Asia tersebut—mulai dari kamera periskop canggih, baterai berkapasitas besar dalam bodi super tipis, hingga integrasi kecerdasan buatan (AI) yang jauh lebih matang dibanding apa yang ditawarkan Apple saat ini.
Pandangan Pakar: “iPhone Kini Tertinggal di Sisi AI dan Telephoto”
Dalam sebuah sesi podcast yang tayang di kanal YouTube Helmy Yahya, Dedy Irvan, Co-founder Jagat Review, memberikan analisis objektif tentang posisi iPhone di tengah persaingan sengit dengan ponsel Android asal China.
“Kalau bicara teknologi, jujur dua tahun terakhir iPhone agak tertinggal dibanding HP China, terutama di sisi AI,” ungkap Dedy dengan lugas.
Fakta ini memang sulit dibantah. Saat ponsel Android seperti Xiaomi 15 Ultra dan Vivo X100 Pro telah mengintegrasikan Google Gemini dan AI lokal yang mampu melakukan editing foto real-time, transkripsi suara cerdas, hingga prediksi konteks penggunaan, Apple baru mulai mengejar ketertinggalan melalui fitur Apple Intelligence yang rencananya hadir di iOS 18.
Bukan hanya AI, sektor kamera juga menjadi medan pertarungan sengit. Menurut Dedy, “Tele masih dipegang oleh brand China. Apple belum bisa menyaingi kualitas telephoto mereka.”
Memang, lensa telefoto pada ponsel seperti Huawei Pura 70 Ultra atau Xiaomi 14 Ultra mampu menghasilkan zoom optik hingga 5x–10x dengan detail luar biasa, bahkan dalam kondisi cahaya rendah. Sementara itu, iPhone 17 Pro Max masih bertahan pada sistem 3x optical zoom—meski tetap unggul dalam konsistensi warna dan pemrosesan gambar alami.
Ekosistem Apple: Senjata Rahasia yang Tak Tertandingi
Namun, Dedy tak lupa menyoroti keunggulan utama Apple yang sulit ditiru: ekosistem terintegrasi.
“Kalau bicara soal kemampuan secara ekosistem, iPhone itu udah benar banget. Semua produknya saling terhubung dengan mulus,” ujarnya.
Bayangkan skenario ini: Anda sedang menonton video di MacBook, lalu ingin melanjutkannya di iPhone—dengan satu klik, konten langsung berpindah. Atau saat menerima panggilan di Apple Watch, Anda bisa langsung menjawab tanpa menyentuh ponsel. Fitur seperti AirDrop, Handoff, Universal Clipboard, dan Continuity Camera menciptakan pengalaman pengguna yang stabil, intuitif, dan nyaris tanpa gangguan.
Bagi pengguna yang sudah memiliki berbagai perangkat Apple—seperti iPad, Mac, atau Apple Watch—iPhone bukan sekadar ponsel, melainkan pusat kendali digital yang menyatukan seluruh ekosistem mereka.
Prestise dan Identitas Sosial: Faktor Emosional di Balik Pembelian iPhone
Selain faktor teknis, Dedy juga menyinggung aspek psikologis yang kerap diabaikan dalam perbandingan spesifikasi: prestise sosial.
“Pengguna iPhone paling sering bikin mirror selfie. Saat iPhone 17 Pro muncul dengan warna oranye khasnya, itu langsung jadi simbol prestise,” katanya sambil tersenyum.
Fenomena ini tak bisa diremehkan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, iPhone masih menjadi simbol status—bukan hanya karena harganya yang premium, tapi juga karena citra merek yang kuat, desain minimalis yang timeless, serta persepsi kualitas yang tinggi. Bahkan di media sosial, unboxing iPhone atau foto dengan casing transparan yang memamerkan logo Apple kerap mendapat engagement tinggi.
Brand China: Berani Inovasi, Tapi Masih Lemah di Software
Di sisi lain, Dedy mengakui bahwa produsen China kini tak lagi sekadar mengejar—mereka memimpin.
Produk seperti Vivo X Fold 3 Pro menawarkan layar lipat ultra-tipis dengan baterai 6.000 mAh, sesuatu yang mustahil dilakukan Apple saat ini. Sementara Xiaomi 15 Ultra membawa sensor kamera 1-inch dengan lensa Leica, teknologi pengisian cepat 90W, dan desain modular yang memungkinkan pengguna mengganti lensa seperti kamera DSLR.
“Kalau secara hardware, mereka luar biasa. Tapi masalahnya ada di software dan ekosistem yang belum konsisten,” tambah Dedy.
Memang, meski spesifikasinya menggiurkan, banyak pengguna melaporkan pengalaman tidak konsisten dalam pembaruan sistem, optimasi aplikasi, atau integrasi antar-perangkat. Belum lagi fragmentasi Android yang membuat pengalaman pengguna berbeda-beda tergantung merek dan model.