Apakah Era Keemasan Sneakers Telah Berakhir? Analis dan Pakar Industri Berselisih Pandangan

Apakah Era Keemasan Sneakers Telah Berakhir? Analis dan Pakar Industri Berselisih Pandangan

sepatu-pixabay-

Pada 2025, model yang paling banyak diperdagangkan di platform resale ternama StockX bukanlah sepatu olahraga biasa, melainkan New Balance 1906L—sebuah siluet hybrid yang memadukan estetika loafer preppy dengan teknologi sol lari maraton. Desainnya elegan namun nyaman, cocok untuk acara semi-formal maupun aktivitas harian.

Fenomena ini juga terlihat di dunia selebriti dan influencer. Kini, wajar melihat bintang film atau ikon mode mengenakan sneakers premium hasil kolaborasi dengan merek mewah seperti Gucci, Moncler, atau Balenciaga. Sepatu-sepatu ini bisa dibanderol puluhan juta rupiah, menunjukkan bahwa sneakers bukan lagi simbol anti-kemewahan, melainkan bagian dari ekspresi gaya hidup modern yang canggih.



Baca juga: Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 14 - 18 Januari 2026

Proyeksi Pertumbuhan: Dari 9% Menjadi 4–5%
Bank of America memang tidak menyatakan bahwa konsumen akan tiba-tiba meninggalkan sneakers dan kembali ke sepatu kulit paten. Namun, mereka menyoroti perlambatan struktural dalam pertumbuhan industri. Jika sejak 2007 rata-rata pertumbuhan tahunan sektor barang olahraga mencapai 9%, maka di masa depan angka itu diperkirakan turun menjadi hanya 4–5%.

Alasannya kompleks: mulai dari data transaksi kartu kredit yang lesu, penjualan yang stagnan di pabrik-pabrik Asia, hingga pernyataan pesimistis dari CEO merek-merek besar tentang prospek tahun 2026. Bahkan kemunduran terbaru Nike—yang selama ini dianggap tak terkalahkan—dianggap sebagai cerminan tekanan makroekonomi yang lebih luas.


Namun, ada dua skenario yang mungkin terjadi.
Skenario optimis: perlambatan ini bersifat sementara, didorong oleh kekhawatiran ekonomi jangka pendek. Jika demikian, boom sneakers bisa kembali menggeliat paling cepat pada 2027.
Skenario pesimis—yang menurut analis Bank of America lebih mungkin terjadi—adalah munculnya “paradigma industri jangka panjang yang baru dan kurang menguntungkan”, di mana pertumbuhan tinggi menjadi kenangan masa lalu.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya