Apakah Era Keemasan Sneakers Telah Berakhir? Analis dan Pakar Industri Berselisih Pandangan

Apakah Era Keemasan Sneakers Telah Berakhir? Analis dan Pakar Industri Berselisih Pandangan

sepatu-pixabay-


Apakah Era Keemasan Sneakers Telah Berakhir? Analis dan Pakar Industri Berselisih Pandangan
Dunia mode sedang dihantui pertanyaan besar: apakah tren sneakers yang telah mendominasi lemari pakaian global selama dua dekade terakhir mulai kehilangan daya tariknya? Sejumlah analis keuangan terkemuka baru-baru ini menyatakan bahwa “siklus naik” industri alas kaki olahraga—yang sempat mencapai puncaknya selama masa pandemi—telah berakhir. Namun, klaim tersebut langsung memicu perdebatan sengit di kalangan pakar industri, pelaku pasar, hingga komunitas pecinta sepatu.

Menurut laporan terbaru dari tim riset Bank of America, sektor barang olahraga, khususnya sneakers, telah menikmati periode pertumbuhan luar biasa sejak awal 2000-an. Dalam kurun waktu 20 tahun, pangsa pasar sepatu kets melonjak dari kurang dari 25% menjadi lebih dari separuh total penjualan alas kaki global. Lonjakan ini dipercepat oleh perubahan gaya hidup masyarakat selama pandemi Covid-19, ketika jutaan orang beralih ke kerja dari rumah dan mengutamakan kenyamanan dalam berpakaian.



Namun, para analis tersebut berargumen bahwa transformasi struktural ini kini telah “selesai”. Akibatnya, prospek pertumbuhan pendapatan di masa depan diprediksi akan jauh lebih terbatas. Mereka bahkan melakukan langkah langka: menurunkan peringkat saham Adidas dari “beli” menjadi salah satu aset paling tidak menarik di sektor ritel fesyen. Reaksi pasar pun cepat—saham Adidas anjlok hingga 7,6% pada hari Selasa pekan lalu, meski kemudian sedikit pulih menjelang akhir pekan.

Skeptisisme dari Para Ahli: “Tren Ini Belum Mati!”
Meski prediksi suram itu terdengar meyakinkan, tidak semua pihak sepakat. Banyak pengamat industri justru menilai bahwa kasualisasi—pergeseran menuju pakaian dan alas kaki santai—bukanlah sekadar tren musiman, melainkan perubahan permanen dalam preferensi konsumen.

Matt Powell, analis veteran yang kini menjabat sebagai penasihat di firma konsultan Spurwink River, dengan tegas membantah klaim tersebut. Melalui unggahan di LinkedIn, ia merespons laporan Barron’s tentang penelitian Bank of America dengan komentar singkat namun tajam: “Ayolah! Tidak ada bukti untuk ini.”


Powell bukan satu-satunya yang skeptis. Beth Goldstein, analis senior di Circana yang berbasis di New York, menegaskan bahwa sneakers kini menyumbang sekitar 60% dari total penjualan alas kaki di Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan penetrasi yang sangat dalam ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Sepatu olahraga bukan hanya soal mode—mereka adalah bagian dari gerakan sosial yang lebih luas: kenyamanan, kesehatan, dan kesejahteraan,” ujar Goldstein. “Prioritas ini tidak akan hilang dalam waktu dekat.”

Data pun mendukung pandangannya. Hingga November 2025, kategori sneakers di AS masih tumbuh 4% secara year-on-year, sementara segmen fesyen formal justru mengalami penurunan sebesar 3%. “Bisnis sepatu kets lebih besar dari sebelumnya,” tambahnya. “Saya bahkan tidak akan menyebut kasualisasi sebagai tren—itu hanyalah preferensi konsumen utama.”

Tantangan Nyata di Balik Kilau Sneakers
Meski popularitas sneakers tampak kokoh, industri ini memang menghadapi sejumlah tantangan serius pasca-pandemi. Permintaan yang sempat meledak kini mulai melambat, terutama di pasar kunci seperti Tiongkok, di mana selera konsumen berubah cepat dan persaingan semakin ketat. Belum lagi ancaman tarif impor dari Amerika Serikat yang terus menghantui rantai pasok global.

Akibatnya, performa saham beberapa raksasa industri pun terpukul. Adidas, misalnya, kehilangan hampir sepertiga nilai pasarnya dalam setahun terakhir. Bahkan On Holding—merek Swiss yang dikenal lewat kolaborasi dengan atlet elite seperti Roger Federer—turun lebih dari 10%, meskipun pendapatannya terus tumbuh pesat.

Namun, menurut Poonam Goyal, analis di Bloomberg Intelligence, perlambatan ini bukanlah tanda akhir, melainkan fase normalisasi. “Kami tidak percaya tren kasualisasi telah berakhir,” katanya. “Tren tersebut telah stabil, dengan lemari pakaian yang kini lebih seimbang antara formal dan kasual.”

Sneakers Masuk Dunia Formal: Evolusi, Bukan Kematian
Salah satu indikator paling menarik dari ketahanan sneakers adalah kemampuannya beradaptasi dan bahkan menembus ranah yang dulunya eksklusif bagi sepatu kulit dan loafer klasik.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya