Perang yang Datang di Awal 2026 Jadi Katalis Kuat bagi Saham Pertahanan Global

Perang yang Datang di Awal 2026 Jadi Katalis Kuat bagi Saham Pertahanan Global

saham-pixabay-

Perang yang Datang di Awal 2026 Jadi Katalis Kuat bagi Saham Pertahanan Global

Dunia memasuki tahun 2026 dengan gejolak geopolitik yang tak terduga. Dalam sepuluh hari pertama yang penuh ketegangan, investor di Eropa dan Asia mulai menyadari satu hal: saham sektor pertahanan bukan hanya tangguh, tapi juga siap mencatatkan kinerja luar biasa untuk tahun kedua berturut-turut.



Konflik bersenjata yang semula dianggap sebagai “perang latar belakang” kini bertransformasi menjadi sinyal nyata bagi pasar keuangan global. Di Ukraina, musim dingin tidak menghentikan gempuran—justru membawa gelombang serangan baru yang memperpanjang konflik yang telah berlangsung selama hampir empat tahun. Namun, justru dua peristiwa di luar medan perang yang paling mengguncang sentimen investor: operasi militer mendadak Amerika Serikat di Venezuela untuk menangkap pemimpin negara tersebut, serta pernyataan kontroversial mantan Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa AS harus “mengendalikan Greenland” alih-alih membiarkannya berada di bawah kedaulatan Denmark—sebuah negara anggota NATO.

Trump, Ketidakpastian, dan Panggilan untuk Kemandirian Militer Eropa
Pernyataan Trump bukan sekadar retorika politik. Bagi banyak analis dan pembuat kebijakan di Eropa, itu adalah wake-up call yang keras dan jelas.

“Ini adalah alarm bahwa sekutu utama kita—Amerika Serikat—tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya,” ujar Aneeka Gupta, Direktur Riset Makroekonomi di WisdomTree. “Tingkat rearmament (pengadaan ulang senjata) harus ditingkatkan, tetapi kecepatannya juga perlu dipercepat secara signifikan.”


Sentimen tersebut langsung merembet ke pasar modal. Portofolio perusahaan pertahanan Eropa yang dikelola oleh Goldman Sachs Group Inc. melonjak 21% hanya dalam bulan Januari 2026. Angka ini mengikuti kenaikan spektakuler sebesar 90% pada tahun 2025. Tren serupa juga terlihat di Asia, khususnya di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, di mana saham-saham pertahanan mencatatkan reli kuat sejak awal tahun.

Salah satu pemicu utama lonjakan ini adalah desakan Trump agar Kongres AS menyetujui tambahan anggaran pertahanan sebesar US$500 miliar. Meski ditujukan untuk memperkuat militer AS, dampaknya bersifat global—karena perusahaan pertahanan non-AS juga diproyeksikan menikmati limpahan permintaan dari mitra strategis dan pelanggan ekspor.

Michael Hartnett, analis senior Bank of America Corp., bahkan menyebut sektor pertahanan sebagai “tema ekuitas jangka panjang terbaik di mana pun.” Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, keamanan nasional kini menjadi prioritas utama bagi hampir semua negara maju maupun berkembang.

Eropa Bergerak Cepat: Rheinmetall Jadi Bintang Investasi
Jerman, sebagai poros ekonomi dan politik Eropa, tampil sebagai garda depan dalam upaya rearmament regional. Di pusat strategi ini berdiri Rheinmetall AG—produsen senjata dan sistem pertahanan ternama Jerman—yang kini menjadi primadona di kalangan manajer investasi.

Saham Rheinmetall, yang sudah melesat 150% pada 2025, kembali naik 22% pada Januari 2026. Vera Diehl, Manajer Portofolio di Union Investment Privatfonds GmbH, bahkan menyebut perusahaan ini sebagai “satu-satunya saham yang akan saya pegang jika harus memilih hanya satu.”

“Rheinmetall memiliki kapasitas produksi, teknologi canggih, dan backlog pesanan yang sangat solid,” kata Diehl. Ia juga menyoroti Saab AB (Swedia) dan Kongsberg Gruppen ASA (Norwegia) sebagai penerima manfaat dari ketegangan seputar isu Greenland, mengingat posisi geografis mereka yang strategis di kawasan Arktik.

Retorika Trump soal Greenland tidak hanya memicu kekhawatiran geopolitik, tetapi juga mempercepat dorongan Eropa menuju kemandirian pertahanan. Menurut Loredana Muharremi, analis Morningstar Inc., pergeseran ini akan menjadi pendorong utama bagi saham pertahanan Eropa sepanjang 2026. Morningstar memproyeksikan rata-rata kenaikan 20% untuk saham-saham pertahanan Eropa yang mereka pantau, dengan variabel utama berupa kondisi ekonomi domestik dan tingkat ketergantungan terhadap anggaran pertahanan AS.

Asia Ikut Bersinar: Ekspor Senjata Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Di sisi lain dunia, Asia tidak ketinggalan merespons dinamika global ini. Investor di kawasan ini mulai melihat sektor pertahanan bukan hanya sebagai instrumen keamanan, tetapi juga sebagai peluang ekspor bernilai tinggi.

Hanwha Aerospace Co., raksasa pertahanan Korea Selatan, menjadi salah satu pemenang terbesar. Sahamnya melonjak hampir 30% pada Januari, setelah melonjak tiga kali lipat sepanjang 2025. Rekan senegaranya, Hyundai Rotem Co.—produsen kendaraan tempur dan kereta militer—juga naik 16%.

Taiwan dan Jepang turut mencatatkan performa mengesankan. Aerospace Industrial Development Corp. (AIDC) dari Taiwan dan Howa Machinery Ltd. dari Jepang termasuk di antara perusahaan yang menikmati arus masuk modal besar sejak awal tahun.

“We optimis terhadap pemasok pertahanan besar, terutama di Korea Selatan,” ujar Weiheng Chen, Strategis Investasi Global di JPMorgan Private Bank. “Mereka sedang memperluas bisnis ekspor dan penjualan internasional untuk memanfaatkan lonjakan belanja pertahanan global.”

Cha So-Yoon, Manajer Investasi Ekuitas di Taurus Asset Management di Seoul, menambahkan bahwa Hanwha dan Hyundai Rotem berpeluang besar memenangkan kontrak ekspor besar dari negara-negara Timur Tengah seperti Irak dan Arab Saudi pada 2026—pasar yang sedang giat memodernisasi pasukan bersenjatanya.

Saham AS Naik, Tapi dengan Syarat Baru
Tentu saja, sektor pertahanan AS juga tidak ketinggalan. Indeks saham kontraktor pertahanan regional Goldman Sachs naik 13% pada Januari, setelah kenaikan 30% pada 2025. Namun, ada bayangan di balik euforia ini.

Rencana Trump untuk membatasi pembelian kembali saham (buyback) dan pembayaran dividen di sektor pertahanan—sebagai bagian dari kebijakan “nasionalisme ekonomi”—berpotensi mengurangi daya tarik saham-saham AS bagi investor institusional yang mencari imbal hasil stabil.

Ironisnya, langkah ini justru bisa menjadi angin segar bagi perusahaan pertahanan di luar AS. “Pembatasan redistribusi modal dapat mengurangi minat investor terhadap saham pertahanan AS, yang berpotensi mengalihkan arus modal ke Eropa,” jelas tim analis Mediobanca yang dipimpin Alessandro Pozzi. Mereka menilai BAE Systems Plc (Inggris) dan Leonardo SpA (Italia) sebagai dua perusahaan Eropa dengan eksposur terbesar terhadap anggaran pertahanan AS—dan karenanya, paling siap menangkap peluang ini.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya