Sariwangi Kembali ke Pangkuan Pengusaha Lokal: Djarum Group Akuisisi Merek Teh Legendaris dari Unilever Indonesia

Sariwangi Kembali ke Pangkuan Pengusaha Lokal: Djarum Group Akuisisi Merek Teh Legendaris dari Unilever Indonesia

teh-pixabay-


Sariwangi Kembali ke Pangkuan Pengusaha Lokal: Djarum Group Akuisisi Merek Teh Legendaris dari Unilever Indonesia

Dunia bisnis Indonesia kembali dikejutkan dengan langkah strategis yang mengguncang industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), raksasa konsumen multinasional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tanah Air, resmi melepas merek teh legendaris Sariwangi kepada Savoria Group, entitas yang terafiliasi dengan Djarum Group. Transaksi senilai Rp1,5 triliun ini bukan hanya angka besar dalam laporan keuangan, tetapi juga menandai babak baru dalam sejarah merek nasional yang selama puluhan tahun identik dengan kehangatan teh celup di rumah-rumah Indonesia.



Langkah ini sekaligus menjadi simbol penting: Sariwangi, merek yang lahir dari tanah Jawa dan tumbuh menjadi ikon nasional, kini kembali dikelola oleh pengusaha lokal setelah hampir empat dekade berada di bawah kendali perusahaan multinasional.

1. Savoria Group: Wajah Baru di Balik Merek Ikonik
Savoria Group, meski namanya belum sepopuler induknya, Djarum Group, bukanlah pemain baru di dunia bisnis. Sebagai entitas yang berada di bawah naungan konglomerasi asal Kudus tersebut, Savoria dipercaya untuk memimpin transformasi strategis atas aset-aset konsumen masa depan milik Djarum.

Dalam pernyataan resminya, manajemen Savoria menegaskan bahwa akuisisi Sariwangi merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memperkuat industri teh nasional dan mengembalikan kendali atas merek-merek ikonik ke tangan anak bangsa. “Kami percaya bahwa Sariwangi bukan sekadar produk, tapi bagian dari identitas budaya Indonesia,” ujar juru bicara Savoria.


Langkah ini juga sejalan dengan tren nasionalisme ekonomi yang semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir, di mana masyarakat dan pemerintah sama-sama mendorong penguatan kepemilikan lokal atas aset strategis.

2. Nilai Transaksi Setara 45% Ekuitas UNVR: Mengapa Ini Penting?
Menurut laporan keuangan Unilever Indonesia per 30 September 2025, nilai transaksi mencapai angka yang sangat signifikan: setara dengan 45% dari total ekuitas perseroan. Dalam dunia akuntansi dan investasi, angka ini menjadikan penjualan Sariwangi sebagai transaksi material, yang wajib diungkap secara transparan kepada publik dan otoritas pasar modal.

Artinya, keputusan ini bukan sekadar restrukturisasi biasa, melainkan langkah strategis yang berdampak langsung pada neraca keuangan dan arah bisnis jangka panjang Unilever Indonesia. Bahkan, jika dibandingkan dengan divestasi-divestasi sebelumnya—seperti pelepasan Blue Band atau bisnis es krim—nilai transaksi Sariwangi jauh lebih besar, baik secara nominal maupun proporsional terhadap struktur keuangan perusahaan.

3. Kontribusi Sariwangi ke UNVR: Besar di Hati, Kecil di Laporan Keuangan
Meski Sariwangi begitu melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia—dengan slogan “Teh celup nomor satu di Indonesia!”—faktanya, kontribusinya terhadap kinerja finansial Unilever Indonesia relatif kecil dalam beberapa tahun terakhir.

Data menunjukkan bahwa aset Sariwangi hanya menyumbang sekitar 2,5% dari total aset UNVR, sementara kontribusi terhadap laba bersih hanya sebesar 3,1% dan pendapatan usaha sekitar 2,7%. Angka-angka ini menggambarkan realitas pasar teh instan yang semakin kompetitif, dengan munculnya berbagai merek lokal, tren minuman herbal, hingga pergeseran preferensi konsumen muda terhadap minuman alternatif seperti kopi susu, bubble tea, dan infused water.

Bagi Unilever, mempertahankan Sariwangi mungkin lebih bernilai secara emosional dan historis daripada secara komersial—sebuah pertimbangan yang akhirnya membuat mereka memilih jalan keluar strategis melalui divestasi.

4. Strategi Transformasi UNVR: Fokus pada Core Business
Pelepasan Sariwangi bukanlah keputusan spontan. Ini adalah bagian dari strategi transformasi besar-besaran yang telah dijalankan Unilever Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Perusahaan kini secara agresif merampingkan portofolio untuk fokus pada dua pilar utama: Home & Personal Care (seperti Lifebuoy, Dove, Rexona) dan Nutrition (termasuk produk susu, suplemen, dan makanan sehat).

Sebelum Sariwangi, UNVR telah melepas bisnis margarin Blue Band dan memisahkan bisnis es krim ke entitas terpisah. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pertumbuhan di segmen bernilai tinggi, serta merespons dinamika konsumen yang semakin sadar kesehatan dan keberlanjutan.

“Kami ingin menjadi perusahaan yang lebih lincah, lebih relevan, dan lebih berdampak di masa depan,” kata Direktur Utama Unilever Indonesia dalam konferensi pers virtual pekan lalu.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya