Grooming Apa Itu? Pernikahan Dini yang Dialami Aurelie Moeremans di Usia 15 Tahun dengan Roby Tremonti Kini Viral Usai Buku Broken Strings Dirilis
Aureli-Instagram-
Grooming Apa Itu? Pernikahan Dini yang Dialami Aurelie Moeremans di Usia 15 Tahun dengan Roby Tremonti Kini Viral Usai Buku Broken Strings Dirilis
Aurelie Moeremans Bongkar Trauma Masa Remaja: Pernikahan Dini di Usia 15 Tahun dan Bahaya Grooming yang Kini Jadi Sorotan Publik
Dunia hiburan Tanah Air kembali diguncang pengakuan mengejutkan. Aurelie Moeremans, aktris dan penyanyi multitalenta yang kini berusia 32 tahun, membuka lembaran kelam masa lalunya melalui buku autobiografi terbarunya berjudul Broken Strings. Di dalamnya, ia mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya saat masih remaja—tepatnya di usia 15 tahun—ketika terjerat dalam hubungan manipulatif dengan seorang pria dewasa berusia 29 tahun.
Pengakuan ini langsung menjadi viral di media sosial dan platform berita nasional, memicu gelombang diskusi luas tentang bahaya grooming, pernikahan dini, serta kerentanan psikologis remaja terhadap eksploitasi emosional dan seksual.
Awal Mula yang Tak Terduga: Pertemuan di Lokasi Syuting Iklan
Dalam bab-bab awal Broken Strings, Aurelie menceritakan secara jujur bagaimana pertemuannya dengan seorang pria yang ia sebut “Bobby” (bukan nama asli) menjadi titik balik hidupnya. Saat itu, ia baru saja memulai karier di dunia hiburan dan masih sangat polos, mudah percaya, serta haus akan validasi.
“Semua berawal dari lokasi syuting iklan. Dia terlihat dewasa, mapan, dan begitu perhatian. Aku merasa spesial,” tulis Aurelie dalam bukunya.
Namun, di balik sikap hangat dan penuh perhatian itu, tersembunyi niat manipulatif yang sistematis. Bobby perlahan-lahan mulai memisahkan Aurelie dari lingkaran pertemanannya, keluarga, bahkan dari realitas sosialnya sendiri. Ia mengontrol cara Aurelie berpakaian, siapa yang boleh diajak bicara, hingga membatasi aksesnya ke dunia luar—semua dilakukan dengan dalih “melindungi” dan “mencintai”.
Apa Itu Grooming? Mengenal Bahaya Tersembunyi di Balik “Kasih Sayang” Palsu
Istilah grooming—atau dalam konteks anak dan remaja disebut child grooming—merujuk pada proses manipulasi psikologis yang dilakukan oleh seseorang (biasanya orang dewasa) untuk membangun kepercayaan, koneksi emosional, dan ketergantungan pada korban yang masih di bawah umur.
Tujuan utamanya? Untuk mengeksploitasi, memanipulasi, atau melakukan kekerasan—baik fisik maupun seksual—terhadap korban tersebut.
“Intinya, ada intensi buruk di balik semua bentuk perhatian yang diberikan. Pelaku ingin memanfaatkan anak atau remaja tersebut, baik untuk kepuasan seksual, kontrol emosional, atau bahkan keuntungan finansial,” jelas Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., seorang psikolog anak, remaja, dan keluarga,
Yang membuat grooming begitu berbahaya adalah caranya yang tidak kasar atau terang-terangan. Tidak seperti penculikan atau kekerasan fisik, pelaku grooming justru menggunakan pendekatan halus: memberikan pujian berlebihan, hadiah tak terduga, perhatian intensif, dan menciptakan ilusi “hubungan istimewa” yang membuat korban merasa aman—padahal sedang terperangkap.
Mengapa Remaja Rentan Jadi Korban Grooming?
Menurut Farraas, ada tiga faktor psikologis utama yang membuat remaja rentan terjerat dalam jaring grooming:
1. Perasaan Bangga dan Dianggap “Dewasa”
Remaja sering kali merasa bangga ketika bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih tua, mapan, dan berpengalaman. Mereka menganggap pasangan dewasa sebagai simbol status atau kedewasaan.
“Mereka merasa, ‘Wah, aku bisa pacaran sama orang yang sudah punya mobil, pekerjaan tetap, dan pengalaman hidup.’ Ini bikin mereka merasa di atas teman sebayanya,” ungkap Farraas.
2. Kebutuhan akan Figur Ayah atau Pengganti Orang Tua
Bagi remaja yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang kuat, perhatian dari pria dewasa bisa terasa seperti “pelarian emosional”. Mereka mudah tergoda karena rasa haus akan kasih sayang paternal yang selama ini tidak terpenuhi.
3. Mencari Apresiasi dan Validasi Emosional
Tidak semua remaja mendapatkan cukup pengakuan di rumah. Ketika seseorang datang dan memberikan pujian, perhatian, serta apresiasi berlebihan, mereka bisa dengan mudah terjerumus—terutama jika kebutuhan emosional dasar mereka belum terpenuhi oleh keluarga.
Dampak Jangka Panjang Grooming pada Kesehatan Mental
Korban grooming sering kali mengalami trauma mendalam yang berlangsung seumur hidup. Gangguan kecemasan, depresi berat, stres pascatrauma (PTSD), hingga pikiran untuk mengakhiri hidup bukanlah hal yang jarang terjadi.
Jika korban dipaksa atau diminta membuat konten intim—seperti foto atau video pribadi—rasa malu, bersalah, dan penolakan diri (self-blame) bisa menjadi beban psikologis yang sangat berat. Banyak korban bahkan enggan melapor karena takut dihakimi atau tidak dipercaya.
“Aurelie berani bersuara bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga sebagai suara bagi ribuan korban lain yang masih terdiam,” ujar seorang aktivis perlindungan anak yang enggan disebut namanya.
Tanda-Tanda Anak atau Remaja Jadi Korban Grooming
Mendeteksi grooming memang tidak mudah, terutama jika komunikasi antara orang tua dan anak kurang terbuka. Namun, Farraas menyebutkan beberapa indikator awal yang patut diwaspadai:
Perubahan perilaku drastis: Anak tiba-tiba menjadi tertutup, sering menyendiri, atau enggan berbagi cerita.
Protektif terhadap perangkat digital: Mulai mengunci ponsel, menghapus riwayat chat, atau marah saat ditanya tentang aktivitas online-nya.
Perubahan pola keuangan: Tiba-tiba memiliki uang lebih, membeli barang mewah tanpa penjelasan jelas, atau menerima “hadiah” dari sumber tak dikenal.
Respons defensif atau gelisah: Saat ditanya soal teman barunya atau aktivitas tertentu, anak menunjukkan sikap menghindar, marah, atau cemas berlebihan.
“Yang paling mencolok adalah mereka jadi sangat rahasia. Seolah ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun,” tambah Farraas.
Baca juga: Harga Emas di Pegadaian 10 Januari 2026: Antam Absen Lagi, UBS dan Galeri 24 Jadi Andalan Konsumen
Broken Strings: Lebih dari Sekadar Memoar—Sebuah Panggilan untuk Kesadaran Sosial
Buku Broken Strings bukan hanya catatan pribadi Aurelie Moeremans tentang luka masa lalu. Ia juga menjadi alat edukasi publik yang kuat tentang betapa rapuhnya remaja di tengah dunia digital yang penuh risiko. Melalui narasi yang jujur, emosional, dan penuh refleksi, Aurelie mengajak masyarakat—terutama orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan—untuk lebih waspada terhadap bahaya laten grooming.
“Saya diam terlalu lama. Sekarang, saya ingin suara saya jadi peringatan. Agar tidak ada lagi gadis seusia saya dulu yang harus mengalami hal yang sama,” tulisnya di akhir bab pertama bukunya.
Langkah Preventif: Edukasi, Komunikasi, dan Perlindungan Digital
Para ahli sepakat: pencegahan grooming dimulai dari rumah. Orang tua perlu membangun hubungan terbuka dengan anak sejak dini, mengedukasi mereka tentang batasan relasi sehat, serta memantau aktivitas digital tanpa menginvasi privasi secara berlebihan.
Di tingkat nasional, diperlukan regulasi yang lebih ketat terhadap konten berisiko di media sosial, serta program literasi digital yang menyasar remaja dan keluarga. Indonesia, yang memiliki populasi remaja terbesar di Asia Tenggara, harus bergerak cepat sebelum lebih banyak korban jatuh.