Prabowo Tegur Elite yang Suka Nyinyir: Kesehatan Jiwa Mereka Agak Aneh – Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Prabowo Tegur Elite yang Suka Nyinyir: Kesehatan Jiwa Mereka Agak Aneh – Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Prabowo-Instagram-

Prabowo Tegur Elite yang Suka Nyinyir: Kesehatan Jiwa Mereka Agak Aneh – Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Di tengah sorotan publik terhadap berbagai program pemerintahannya yang mulai menunjukkan hasil nyata, Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi pusat perhatian—namun kali ini bukan karena kebijakan ekonomi atau pertahanan, melainkan karena sindiran pedasnya terhadap sejumlah kalangan elite nasional.



Dalam acara panen raya dan pengumuman pencapaian swasembada beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (7/1/2026), Presiden Prabowo tak segan menyindir para tokoh yang selama ini dikenal kerap meremehkan capaian bangsa. Dengan nada tegas namun tetap tenang, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sikap sebagian elite yang menurutnya lebih suka mencemooh ketimbang memberikan apresiasi atas kemajuan Indonesia.

“Ada elite kita sebagian yang kerjanya hanya ngejek, hujat, fitnah, nyinyir, ya kan. Enggak ada keberhasilan bangsa Indonesia. Atlet-atlet kita berjuang, enggak ada mereka ucapan selamat. Enggak ada mereka menghargai usaha pemerintah,” ujar Prabowo di hadapan ribuan petani, pejabat daerah, dan awak media.

Pernyataan tersebut sontak menjadi viral di media sosial, memicu perdebatan luas di kalangan netizen, akademisi, hingga pengamat politik. Banyak warganet menyambut positif sikap Presiden yang dinilai berani membela martabat bangsa, sementara sebagian lain mempertanyakan siapa sebenarnya sosok “elite” yang dimaksud.


Elite yang Tak Pernah Puas: Siapa Mereka?
Meski tak menyebut nama secara eksplisit, sindiran Prabowo tampaknya ditujukan kepada sejumlah figur publik—baik dari dunia politik, media, maupun akademisi—yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah dengan nada sinis, bahkan saat ada pencapaian signifikan seperti swasembada pangan atau prestasi olahraga internasional.

Beberapa pengamat menilai bahwa sindiran ini merupakan respons terhadap narasi negatif yang terus-menerus dibangun oleh kelompok tertentu, terutama di ruang digital, yang cenderung meremehkan setiap langkah pemerintah, tanpa memberikan solusi konstruktif.

“Ini bukan soal anti-kritik. Presiden justru terbuka terhadap masukan. Tapi ketika kritik itu berubah menjadi ejekan sistematis yang mengabaikan fakta objektif, itu sudah masuk wilayah gangguan perspektif,” ungkap Dr. Lina Wijaya, pakar komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran.

Swasembada Beras: Capai Mimpi yang Lama Dinanti
Latar belakang pernyataan keras Prabowo tak lepas dari momen penting yang sedang dirayakan: pengumuman resmi swasembada beras nasional. Setelah puluhan tahun Indonesia bergantung pada impor beras, pencapaian ini dianggap sebagai tonggak sejarah baru dalam kedaulatan pangan.

Di lahan pertanian Karawang—kawasan yang dikenal sebagai lumbung padi nasional—Presiden menyaksikan langsung panen raya yang melibatkan ribuan petani. Ia pun menyampaikan apresiasi tinggi kepada para petani, penyuluh pertanian, serta jajaran Kementerian Pertanian yang telah bekerja keras mewujudkan target tersebut.

“Petani adalah pahlawan pangan. Tanpa mereka, mimpi swasembada hanyalah angan-angan,” tegas Prabowo, yang disambut tepuk tangan meriah.

Namun, di balik euforia tersebut, Prabowo menyadari bahwa masih ada pihak-pihak yang enggan mengakui keberhasilan ini. Bahkan, beberapa jam setelah pengumuman swasembada, beredar narasi di media sosial yang mempertanyakan validitas data dan menuding pemerintah melakukan “pencitraan”.

“Kesehatan Jiwa Mereka Agak Aneh” – Sindiran yang Menohok
Kalimat paling menohok dalam pidato Prabowo adalah saat ia menyebut bahwa “kesehatan jiwa” para elite tersebut “agak aneh”. Pernyataan ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan cerminan kekecewaan mendalam terhadap sikap yang dianggap tidak proporsional.

Menurut psikolog sosial Dr. Rendra Aditya, sindiran semacam itu bisa dipahami sebagai bentuk perlindungan terhadap semangat kolektif bangsa. “Ketika sebuah kelompok terus-menerus dikritik tanpa pengakuan atas usaha mereka, itu bisa melemahkan motivasi nasional. Pemimpin perlu melindungi energi positif itu,” jelasnya.

Namun, ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan tetap dijaga dalam koridor demokratis. “Yang perlu dihindari adalah polarisasi berlebihan. Kritik sehat harus tetap ada, tapi jangan sampai berubah menjadi destruksi moral.”

Respons Publik: Dukungan Mengalir, Tapi Perdebatan Tetap Membara
Di media sosial, tagar #DukungPrabowo dan #EliteNyinyir langsung menjadi trending topic nasional. Ribuan warganet membanjiri unggahan resmi Istana dengan komentar dukungan, memuji sikap Presiden yang dianggap “berani bicara apa adanya”.

“Sudah capek lihat orang-orang yang selalu nyinyir padahal nggak pernah turun tangan. Pak Prabowo benar—kadang kita perlu introspeksi: siapa sebenarnya yang sedang sakit jiwa?” tulis seorang pengguna Twitter.

Namun, di sisi lain, sejumlah aktivis dan jurnalis menyerukan agar pemerintah tetap terbuka terhadap kritik, meskipun bernada keras. “Demokrasi bukan hanya soal pencapaian, tapi juga akuntabilitas. Jangan sampai sindiran jadi tameng untuk menghindari evaluasi,” kata salah satu komentator politik ternama.

Menuju Indonesia Maju: Antara Apresiasi dan Akuntabilitas
Presiden Prabowo sendiri menegaskan bahwa tujuan utamanya tetap sama: menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri, maju, dan sejahtera. Ia menekankan bahwa pencapaian seperti swasembada beras hanyalah awal dari transformasi besar yang sedang digarap.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya