MBG Tetap Berjalan di Bulan Ramadhan 2026: Skema Khusus Hadir untuk Lindungi 1.000 Hari Pertama Kehidupan
sekolah-igorovsyannykov/pixabay-
MBG Tetap Berjalan di Bulan Ramadhan 2026: Skema Khusus Hadir untuk Lindungi 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Di tengah suasana spiritual bulan Ramadhan 2026, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa jeda. Tak hanya berfokus pada anak usia sekolah, MBG kini memperluas sasarannya dengan menitikberatkan pada kelompok paling rentan: ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di bawah usia lima tahun (baduta). Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional pencegahan stunting yang semakin diperkuat sejak tahun 2025.
Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Dalam kunjungannya ke SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, pada Kamis (8/1/2026), Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa momentum 1.000 hari pertama kehidupan (HPK)—yang mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun—adalah periode emas yang tak boleh terlewatkan. “Golden time period ini sangat singkat, namun sangat menentukan pertumbuhan otak dan pencegahan stunting,” tegasnya.
Oleh karena itu, meski bertepatan dengan libur sekolah dan bulan suci Ramadhan, distribusi MBG tidak akan dihentikan. “Kami pastikan program tetap jalan, karena target utamanya bukan hanya anak sekolah, tapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—kelompok yang justru paling krusial dalam periode emas perkembangan manusia,” tambah Dadan.
Skema Distribusi Selama Ramadhan dan Libur Sekolah
Berbeda dengan pelaksanaan di hari sekolah biasa, skema distribusi MBG selama bulan Ramadhan dan masa libur sekolah akan menyesuaikan kondisi logistik dan kebutuhan penerima manfaat. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, BGN akan menyediakan paket bantuan berupa makanan kering atau bahan pangan siap olah yang dapat dikonsumsi di rumah. Langkah ini memastikan asupan gizi keluarga tetap terjaga meski tidak ada aktivitas belajar mengajar di sekolah.
“Kami telah memiliki pengalaman mengelola distribusi selama libur panjang. Tahun 2025 lalu, kami sukses menyalurkan MBG dalam bentuk bahan pokok bergizi tinggi yang praktis untuk diolah keluarga di rumah,” ungkap Dadan.
Jangkauan Luas, Dampak Ekonomi Signifikan
Program MBG kini telah menjangkau sekitar 55,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu program perlindungan sosial terbesar di bidang gizi. Dengan cakupan sebesar itu, kebutuhan rantai pasok menjadi sangat masif—namun justru membawa dampak ekonomi positif yang tak bisa diabaikan.
“Alhamdulillah, program ini tidak hanya menyelamatkan generasi masa depan, tapi juga telah memberikan kontribusi ekonomi yang luar biasa,” ujar Dadan. Ia menjelaskan bahwa ekosistem MBG telah menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 700.000 orang yang terlibat langsung di 19.188 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada tahun 2025. Jumlah ini belum termasuk para petani, peternak, UMKM pangan, dan pelaku usaha lain yang menjadi pemasok bahan baku untuk SPPG di seluruh wilayah Indonesia.
Relaunching Serentak Usai Libur Natal dan Tahun Baru