Skandal di Balik Layar Kitabisa: Viralnya Dugaan Kecurangan dan Eksploitasi Pasien oleh Jaringan Yayasan Fiktif

Skandal di Balik Layar Kitabisa: Viralnya Dugaan Kecurangan dan Eksploitasi Pasien oleh Jaringan Yayasan Fiktif

Kita bisa-Instagram-

Skandal di Balik Layar Kitabisa: Viralnya Dugaan Kecurangan dan Eksploitasi Pasien oleh Jaringan Yayasan Fiktif

Dunia maya digegerkan oleh temuan mengejutkan seputar platform penggalangan dana terkemuka di Indonesia, Kitabisa. Belakangan ini, masyarakat dibuat geram oleh dugaan kecurangan terorganisir dan eksploitasi pasien yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum yayasan yang beroperasi di bawah naungan platform tersebut. Isu ini bukan hanya menyentuh aspek etika digital, tetapi juga mempertanyakan integritas sistem donasi online yang selama ini dianggap sebagai penyalur harapan bagi mereka yang membutuhkan.



Awal Mula Skandal: Cuitan yang Mengguncang Dunia Maya
Semua bermula dari unggahan di platform X (dulunya Twitter) oleh akun @5jangto pada Minggu, 4 Januari 2026. Dalam thread panjang yang detail dan penuh analisis, akun tersebut memaparkan temuan mencurigakan terkait belasan yayasan yang tampil di Kitabisa dengan pola operasional yang nyaris identik. Thread ini kemudian kembali mencuat ke permukaan pada Kamis, 8 Januari 2026, setelah di-repost oleh akun viral @tanyarlfes, sehingga memicu gelombang reaksi luas dari warganet.

Salah satu poin utama yang diungkap oleh @5jangto adalah kemiripan gaya penulisan kampanye (copywriting), foto profil, bahkan narasi kisah pasien yang digunakan oleh yayasan-yayasan tersebut—meskipun mereka mengklaim beroperasi di kota dan alamat yang berbeda-beda.

“Ini seolah-olah dikendalikan oleh satu entitas, satu jaringan terorganisir. Bagaimana mungkin puluhan yayasan dari berbagai daerah bisa memiliki deskripsi, caption, dan layout kampanye yang hampir persis?” tulis akun tersebut, dikutip pada Kamis (8/1).


Temuan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah donasi yang dikumpulkan benar-benar sampai ke tangan pasien? Atau justru menjadi sumber keuntungan bagi pihak ketiga yang memanfaatkan rasa empati publik?

Eksploitasi Tanpa Izin: Orang Tua Tak Tahu Anaknya Dijadikan “Bahan Kampanye”
Yang paling menyayat hati adalah fakta bahwa banyak orang tua pasien tidak pernah memberikan izin kepada yayasan manapun untuk menggalang dana atas nama anak mereka. Beberapa di antaranya bahkan sama sekali tidak tahu bahwa foto, nama, dan kisah sakit anak mereka dipakai dalam kampanye donasi di Kitabisa.

“Orang tua tidak pernah meminta bantuan, apalagi memberikan izin kepada yayasan tersebut. Mereka bahkan tidak tahu kalau ada yang menggalang dana atas nama anak mereka di platform online,” ungkap @5jangto lebih lanjut.

Praktik semacam ini bukan hanya melanggar etika jurnalisme dan privasi, tetapi juga berpotensi menyalahi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta kode etik penggalangan dana sosial. Lebih parah lagi, ini menunjukkan adanya komersialisasi penderitaan, di mana kisah sakit anak-anak digunakan sebagai alat pemasaran untuk menarik simpati donatur—tanpa kejelasan alokasi dana.

Respons Warganet: Amarah, Kecewa, dan Seruan untuk Audit Independen
Thread tersebut langsung menjadi viral dan memicu gelombang respons dari berbagai lapisan masyarakat. Netizen menyuarakan kekecewaan, amarah, bahkan kekhawatiran terhadap nasib donasi mereka yang mungkin telah “disalahgunakan”.

“Up up up pls, ini harus ditindak lanjut! Saya benar-benar kecewa. Saya donasi dengan niat tulus, bukan untuk mengisi kantong oknum,” tulis salah satu warganet.

Yang lain menambahkan:

“Sudah lama saya curiga. Banyak campaign yang terbuka lama, donasinya sudah banyak terkumpul, tapi tidak ada update sama sekali. Ini jelas tidak transparan.”

Tuntutan pun mengalir deras: audit independen terhadap yayasan-yayasan di Kitabisa, verifikasi identitas pasien, serta mekanisme pengawasan ketat dari pihak platform.

Lalu, Apa Itu Kitabisa Sebenarnya?
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Kitabisa dikenal sebagai salah satu platform crowdfunding terbesar dan paling tepercaya di Tanah Air. Berdiri sejak 2015, platform ini memfasilitasi penggalangan dana untuk berbagai kebutuhan mulai dari bantuan medis, penanganan bencana, pendidikan, zakat, hingga wakaf.

Menurut laman resminya dan informasi dari Wikipedia, Kitabisa dioperasikan oleh dua entitas utama:

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya