Wajah Pelaku Pembunuhan Anak Politisi PKS Maman Suherman Terungkap: Karyawan Petrokimia Terdesak Utang hingga Bermain Kripto Gagal
ilustrasi-waldryano-
Wajah Pelaku Pembunuhan Anak Politisi PKS Maman Suherman Terungkap: Karyawan Petrokimia Terdesak Utang hingga Bermain Kripto Gagal
Kasus pembunuhan terhadap putra kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Cilegon, Maman Suherman, akhirnya menemui titik terang. Pelaku berinisial HA (30), seorang karyawan di perusahaan petrokimia ternama di kawasan Ciwandan, Cilegon, Banten, berhasil diringkus aparat kepolisian pada Jumat sore, 2 Januari 2026. Ironisnya, penangkapan itu terjadi saat HA sedang beraksi mencuri di rumah mewah milik mantan anggota DPRD Kota Cilegon, Roisyudin Sayuri.
Dari Pencuri Spesialis Rumah Mewah hingga Jatuh ke Jurang Kriminal
Menurut laporan investigasi yang ditayangkan Kompas TV pada Minggu, 4 Januari 2026, HA ternyata bukan pelaku biasa. Ia dikenal sebagai pencuri spesialis rumah-rumah mewah yang sedang kosong. Dengan modus operandi yang rapi dan cenderung diamati terlebih dahulu, HA kerap menyasar kawasan perumahan elite di wilayah Banten.
Namun kali ini, nasib berkata lain. Aksinya terhenti ketika polisi berhasil melacak keberadaannya di rumah Roisyudin Sayuri, kerabat dekat Maman Suherman. Saat ditangkap, HA kedapatan membawa sejumlah barang bukti, termasuk kartu identitas dan kartu anggota serikat pekerja yang mengungkap latar belakang profesinya.
Identitas Pelaku: Karyawan Petrokimia dengan Latar Belakang Kompleks
HA berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, namun telah lama menetap di Banten demi bekerja di sektor industri berat. Dari dokumen yang ditemukan, terungkap bahwa ia merupakan pegawai tetap di salah satu perusahaan pengolahan dan manufaktur petrokimia terkemuka di kawasan industri Ciwandan, Cilegon.
“Dilihat dari SIM dan kartu anggota serikat, dia seorang pekerja, karyawan. Bukan preman atau residivis,” ujar Dede Rohana, anggota DPRD Banten yang juga kerabat Roisyudin Sayuri, saat diwawancarai awak media.
Fakta ini mengejutkan banyak pihak. Sebab, sosok HA digambarkan sebagai pekerja industri yang mapan secara profesi, namun terbelit masalah keuangan yang sangat parah hingga mendorongnya melakukan tindakan kriminal ekstrem.
Motif Ekonomi: Utang Ratusan Juta dan Investasi Kripto yang Gagal
Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Banten, Kombes Pol Dian Setyawan, menjelaskan bahwa motif utama di balik pembunuhan tersebut adalah ekonomi. HA awalnya berencana mencuri di rumah Maman Suherman yang berlokasi di Perumahan BBS III, Ciwaduk, Cilegon. Namun, aksinya gagal total lantaran dipergoki oleh korban.
Dalam kondisi panik, HA nekat menghabisi nyawa korban dengan menggunakan pisau tajam. Tragedi itu menandai titik terendah dari rangkaian kesulitan hidup yang dialami pelaku selama beberapa tahun terakhir.
“Yang bersangkutan melakukan aksi ini karena dilatarbelakangi motif ekonomi,” tegas Kombes Dian Setyawan dalam konferensi pers, Senin, 5 Januari 2026.
Ternyata, HA memikul utang yang luar biasa besar: Rp700 juta kepada bank, Rp70 juta ke pihak informal, dan Rp50 juta dari pinjaman online (pinjol). Total utangnya mencapai Rp820 juta—sebuah angka fantastis yang sulit dicicil oleh pekerja dengan gaji tetap.
Uang pinjaman tersebut, menurut pengakuan HA kepada penyidik, digunakan untuk berinvestasi di aset kripto. Namun alih-alih mendulang untung, HA justru mengalami kerugian besar akibat volatilitas pasar digital. Investasi yang seharusnya menjadi jalan keluar finansial berubah menjadi jebakan utang tanpa ujung.
Perjuangan Melawan Kanker Stadium 3: Faktor Tambahan yang Memperparah Tekanan Mental
Namun, tekanan finansial bukan satu-satunya beban yang ditanggung HA. Sejak tahun 2020, ia didiagnosis menderita kanker stadium 3. Penyakit tersebut membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, termasuk kemoterapi rutin, pemeriksaan lanjutan, dan obat-obatan khusus yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Kombes Dian Setyawan menjelaskan bahwa kondisi medis HA turut memperparah tekanan psikologis dan finansialnya. “Karena impitan ekonomi inilah yang mendorong yang bersangkutan untuk melakukan tindak pidana ini,” ujarnya dengan nada prihatin.