Merujuk pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, khususnya Pasal 55 ayat (2), setiap orang yang menimbun, menguasai, atau menyediakan bahan bakar minyak secara tanpa hak dapat dipidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling tinggi Rp 60 miliar.

Jika benar Nevi Rizal menggunakan fasilitas, koneksi, atau dana yang tidak wajar untuk mengakuisisi 15 jirigen BBM di tengah kelangkaan, maka ini adalah celah besar yang harus diusut oleh aparat penegak hukum, termasuk Kepolisian dan Kejaksaan, serta diawasi oleh KPK terkait potensi korupsi atau penyalahgunaan wewenang.

>>> Jay Feely Menang di Arizona, Demokrat Masih Hitung Suara

Fenomena "Acc Kedua" dan Jejak Digital
Kasus ini juga menyoroti fenomena berbahaya di kalangan anak pejabat atau orang berada yang menggunakan "akun kedua" (second account) atau finsta untuk pamer kemewahan tanpa filter. Mereka seolah lupa bahwa di era digital, screenshot adalah senjata yang tak termaafkan.

"Dia flexing di second acc-nya kak, jadi ada yang cepuin (screenshot). Di TikTok juga sama, akunnya sekarang udah di-private," jelas salah satu warganet yang berhasil mengabadikan bukti-bukti tersebut.

Desakan Transparansi LHKPN
Hingga Rabu, 22 Juli 2026, baik Nevi Rizal maupun pihak Pemerintah Kabupaten Gayo Lues belum memberikan klarifikasi resmi terkait viralnya unggahan sang anak.

Publik kini tidak hanya menuntut permintaan maaf, tetapi juga desakan transparansi. Warganet mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Inspektorat untuk segera menarik dan memeriksa Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Nevi Rizal. Apakah gaya hidup mewah sang anak, mulai dari liburan luar negeri hingga kendaraan mahal, sebanding dan wajar jika ditelusuri dari gaji dan penghasilan resmi seorang Plt Sekda?

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para penyelenggara negara: jabatan adalah amanah, bukan tiket untuk membiarkan keluarga hidup dalam gelembung kemewahan yang melukai hati rakyat yang sedang kesulitan. Netizen kini menunggu, apakah aparat akan bertindak tegas, atau kasus ini hanya akan berakhir dengan akun yang diprivatkan dan janji manis klarifikasi?