Pengakuan Mengejutkan: "Sudah Setahun Tak Omongan"

Gerah dengan spekulasi dan tanya jawab netizen yang kian liar, Frank Alexander akhirnya memilih untuk blak-blakan. Lewat sebuah unggahan di Instagram Story pribadinya, @frankalexand3r, pada Sabtu (18/7/2026), ia menguak fakta yang selama ini ditutup rapat: hubungan mereka telah membeku dalam waktu yang cukup lama.
 
Menanggapi pertanyaan warganet yang heran mengapa persoalan internal keluarga harus diumbar ke jagat maya, Frank memberikan jawaban singkat namun menohok. Ia secara terbuka mengakui bahwa kompromi di antara mereka sudah runtuh akibat jurang perbedaan prinsip yang tak lagi bisa disatukan.
 
"Sudah 1 tahun ga omongan. Sudah pisah jalan. Makanya buka kantor sendiri," tulis Frank Alexander dalam unggahan tersebut, menegaskan bahwa jarak fisik dan profesional yang ia ambil adalah konsekuensi logis dari perpecahan nilai yang tak terdamaikan.
 

Serangan Frontal terhadap Program "Pengais Keadilan"

Konflik ini tidak berhenti pada sentilan personal semata. Frank juga mengarahkan bidikan kritiknya yang paling tajam pada program bantuan hukum gratis @hotman911official. Gerakan yang selama ini kerap dielu-elukan oleh Hotman Paris sebagai wadah kemanusiaan dan empati terhadap masyarakat kecil, kini digugat habis-habisan oleh putra sulungnya.
 
Di mata Frank, program dengan slogan "Pengais Keadilan" tersebut telah kehilangan kesuciannya. Ia menuding program sosial itu telah bergeser fungsi menjadi kedok bisnis belaka, sengaja dimanfaatkan sebagai alat pemasaran terselubung demi mendongkrak popularitas dan bisnis hiburan malam milik sang ayah, khususnya Holywings.
 
"Orang miskin itu cuman dijadiin senjata marketing aja. He never really care about being center of attention," tulis Frank dengan nada kecewa yang begitu kental.
 
Puncak dari kekecewaannya terungkap ketika ia mendesak agar wadah bantuan hukum untuk kalangan bawah itu segera dihentikan operasionalnya secara total. "Tutup aja ini IG pengais keadilan. Marketing ala-ala buat jualan alcohol di Holywings. Lebih hina dari hina," tegasnya tanpa ragu, menunjukkan betapa dalamnya luka dan ketidakpercayaan yang ia rasakan terhadap motif di balik aksi-aksi publik sang ayah.