Seorang pengguna dengan handle @megQ**** berkomentar, "Saya berharap Jepang juga mencoba hal seperti ini.

Tapi saya ragu apakah Jepang memiliki penyanyi yang bisa mengumpulkan 100.000 orang dari seluruh dunia sekaligus."

Lee Chang-min menambahkan bahwa di Jepang, K-pop tidak hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi juga sebagai contoh sukses kebijakan industri konten.

Dengan kebijakan 'Cool Japan' yang dianggap gagal, banyak yang bertanya mengapa Korea bisa berhasil sementara Jepang tidak.

Bahasa Jepang menjadi bahasa kedua terbanyak setelah Inggris dalam unggahan tentang konser tersebut, dengan 355 unggahan.

Pesan Presiden Lee Jae Myung tentang konser BTS juga menyebar luas di kalangan penggemar internasional.

Unggahan yang membagikan pesan tersebut rata-rata mendapat 3.348 repost, tertinggi di antara konten berbahasa asing.

Penggemar luar negeri melihatnya sebagai pengakuan resmi terhadap BTS sebagai perwakilan budaya Korea.

Peneliti menemukan bahwa pengguna berbahasa Inggris sering menggunakan kata kunci 'historical' untuk menggambarkan konser tersebut.

Sementara itu, pengguna Korea lebih banyak mengkritik gangguan sehari-hari dan penggunaan sumber daya pemerintah.

>>> CORTIS Siap Gelar Tur Dunia Perdana 'Put Your Phone Down'

Perbedaan perspektif ini menunjukkan bahwa warga Korea melihat Gwanghwamun sebagai infrastruktur publik, sementara audiens internasional melihatnya sebagai panggung simbolis Korea.