Banyak konsumen, khususnya perempuan, yang menyatakan rasa trauma dan kekhawatiran akan ditangani oleh tenaga medis yang memiliki rekam jejak body shaming. “Masak mau di-treatment sama dokter yang hobi nge-bully fisik pasiennya? Mending cari klinik lain,” tulis salah satu warganet yang mengancam akan membatalkan jadwal treatment dan memboikot produk serta layanan ERHA.

Ancaman boikot ini menjadi peringatan keras bagi industri klinik kecantikan di Indonesia. Kasus ini membuktikan bahwa di era digital, etika dan moral seorang tenaga medis tidak hanya diukur dari kemampuan klinisnya di dalam ruang praktik, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia di ruang publik.

Hingga artikel ini diturunkan, pihak manajemen ERHA belum merilis pernyataan resmi terkait langkah tegas apa yang akan mereka ambil terhadap dr. Ayu Kusuma Ningrum. Publik kini menanti, apakah institusi tersebut akan melindungi reputasi besarnya dengan menindak tegas oknum yang mencoreng nama baik dunia medis, atau akan membiarkan kasus ini perlahan tenggelam ditelan waktu?