Indeks PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 berdasarkan data S&P Global. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih dalam fase kontraksi.

Di tengah pelemahan sektor manufaktur Indonesia, Bank Dunia pada Juli 2026 menetapkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas.

>>> Mojtaba Khamenei Tak Hadir di Pemakaman Ayahnya, Spekulasi Kesehatan Menguat

Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen.

Ekonom Senior Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai penurunan PMI mencerminkan lemahnya kondisi sektor industri nasional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelumnya belum ditopang pemulihan manufaktur secara menyeluruh.

"Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah.

Data PMI yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi," kata Didik dalam keterangan tertulis.

Didik menyebut dunia usaha saat ini menghadapi tekanan dari faktor global maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik dinilai meningkatkan biaya produksi.

Sementara di dalam negeri, pelaku industri masih menghadapi hambatan birokrasi, keterbatasan insentif investasi, serta melemahnya daya beli masyarakat akibat berkurangnya lapangan kerja produktif.

"Ini seperti lingkaran setan. Upaya memutusnya tidak lain adalah lewat transformasi struktur industri, deregulasi, dan debirokratisasi," ujarnya.

Didik menilai capaian Vietnam menjadi negara berpendapatan menengah atas tidak terlepas dari konsistensi pemerintah dalam menarik investasi asing langsung yang berorientasi ekspor.

>>> Trump Klaim AS Menang Perang Lawan Iran Saat Teheran Berduka

Hal itu sekaligus mendorong transfer teknologi dan penguatan inovasi industri.

Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia per Juli 2026, pendapatan nasional bruto per kapita Vietnam telah mencapai sekitar US$4.970.