Aktivitas manufaktur Indonesia kembali terkontraksi pada Juni 2026.

S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei.

>>> Changan Akui Penjualan Masih 231 Unit, CEO: Bayi Baru Lahir Butuh Proses

Angka tersebut menandai pelemahan terdalam sektor manufaktur dalam setahun terakhir.

Penurunan indeks dipicu melemahnya permintaan baru yang berdampak pada volume produksi, aktivitas pembelian bahan baku, hingga penyerapan tenaga kerja.

S&P Global menyebut pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Penurunan ini sekaligus menjadi yang terdalam dalam setahun terakhir.

Pelaku usaha mengaitkan kondisi tersebut dengan melemahnya daya beli pelanggan di tengah tekanan kenaikan harga.

Permintaan ekspor juga kembali menyusut dengan laju tercepat sejak Agustus 2021 akibat lesunya permintaan luar negeri dan kenaikan harga.

Melemahnya permintaan membuat perusahaan memangkas produksi untuk bulan keempat berturut-turut. Penurunan output pada Juni bahkan menjadi yang terdalam sejak April 2025.

Kondisi tersebut turut mendorong produsen mengurangi aktivitas pembelian bahan baku serta menekan tingkat persediaan.

Aktivitas pembelian tercatat turun selama empat bulan berturut-turut dan menjadi penurunan terdalam sejak Agustus 2021.

Pada saat yang sama, perusahaan juga mengurangi jumlah tenaga kerja dengan laju tercepat sejak September 2021.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan sektor manufaktur Indonesia kembali melemah untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir.

>>> Eks Panglima Militer Israel Gadi Eisenkot Resmi Maju Capres, Siap Tumbangkan Netanyahu

"Kondisi sektor manufaktur Indonesia memburuk untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir dan menutup paruh pertama 2026.

Laju pelemahannya menjadi yang terkuat dalam setahun, seiring penurunan pesanan baru yang kembali terjadi dan mendorong penurunan produksi paling tajam sejak April 2025," kata Bhatti dalam laporan tersebut, Rabu (1/7).