“Kami terus melakukan koreksi dan evaluasi terhadap dokumen yang diajukan agar kegiatan pertambangan berjalan sesuai rencana dan memenuhi prinsip tata kelola pertambangan yang baik,” tuturnya.

Potensi Relaksasi Target RKAB Batu Bara

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah membuka kemungkinan melakukan relaksasi terhadap target RKAB batu bara untuk periode 2026. Kebijakan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan harga komoditas di pasar global.

“Kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi. Kalau harganya mulai mentok, kita juga akan membuat kebijakan agar supply and demand itu bisa kita jaga,” kata Bahlil saat konferensi pers di kompleks DPR pada 8 Juni 2026.

Bahlil menilai dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga komoditas dunia, termasuk batu bara.

Dalam RKAB 2026, kuota produksi batu bara ditetapkan sekitar 600 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target RKAB 2025 yang mencapai 735 juta ton.

Sementara itu, kuota produksi bijih nikel tahun ini berada pada kisaran 260 juta ton hingga 270 juta ton. Jumlah tersebut turun dibandingkan realisasi produksi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 320 juta ton.