Alex sendiri membenarkan bahwa ayahnya harus belajar dari nol untuk memahami olahraga yang kini ia tekuni tersebut.

"He's right; my dad didn't know anything about soccer," kata Alex Freeman tiga hari sebelum pertandingan pembuka Piala Dunia.

"He's just kind of learned as I've gone on, and it's been good to know that he's had an interest in wanting to learn more about the sport as I've gone on."

Alex lahir pada 9 Agustus 2004, beberapa bulan setelah sang ayah menyelesaikan sembilan tahun kariernya di NFL.

Langkah Alex sempat diawali dengan mengikuti jejak ayahnya bermain sepak bola Amerika, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada sepak bola biasa.

"I had my doubts when I first chose soccer," kata Alex Freeman mengenai keraguannya di masa lalu.

"In my heart, I wanted to continue playing football, but I knew that if I wanted to be the best, I had to limit my area of concentration and I had to limit it all to soccer at that point."

Melihat perkembangan sang anak, Antonio sebenarnya sempat memiliki impian untuk melatih Alex di bidang sepak bola Amerika dan bola basket.

Namun, ia menyadari bahwa kegembiraan sejati putranya berada di lapangan hijau sejak usia remaja.

"I had dreams of coaching him in football and basketball and showing him how to shoot a 3-pointer, make a pump fake and different things," tutur Antonio Freeman mengenakan memorinya.

"But his joy was on that soccer field, and when he became a teenager, he just played more and more soccer."