Suasana pagi hari raya Lebaran di pedesaan Belitung pada masa lampau selalu kental dengan aroma masakan khas dari tungku dapur yang menyala sejak dini hari.

Di antara sajian gulai dan ketupat yang menghias meja, kerap terselip kue tradisional sederhana berwarna pucat bernama pumpuk.

>>> Dilema Memberi THR Saat Kondisi Keuangan Terbatas

Kue ini tampil tanpa hiasan warna-warni atau taburan gula modern, melainkan berbentuk pipih kasar dengan bahan dasar tepung singkong dan kelapa.

Hidangan ini memiliki ketebalan sekitar dua sentimeter dengan tekstur kering remah yang menyerupai singkong kukus dengan kadar air rendah.

Proses Pembuatan yang Panjang

Masyarakat setempat memanfaatkan pangan lokal yang mudah tumbuh di tanah berpasir dengan meracik tepung singkong tradisional atau tepong rap menggale, kelapa parut setengah tua, dan garam.

Pembuatan kue ini membutuhkan waktu yang cukup panjang karena singkong harus dikupas dan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu.

Bahan tersebut kemudian dijemur di bawah terik matahari di atas para-para bambu halaman rumah hingga mengering sepenuhnya.

Setelah kering, para anggota keluarga bergotong-royong menumbuk singkong menggunakan lesung dan alu hingga menghasilkan butiran tepung yang agak kasar.

>>> 5 Pemain Lokal Persib Bandung yang Berpeluang Hengkang Musim Ini

Adonan tepung kasar yang telah tercampur kelapa parut dan garam kemudian dimasukkan ke dalam loyang untuk dikukus di atas tungku dapur.

Kue yang telah matang dan mengeras akan dipotong-potong kecil sebelum disajikan kepada para tamu yang berkunjung.

Sajian Sederhana di Beranda Rumah

Pada hari biasa, kudapan ini menjadi bekal mengenyangkan bagi para petani yang pergi ke ladang atau nelayan yang melaut karena mampu bertahan hingga tiga hari.

Namun saat perayaan Lebaran, hidangan ini berubah menjadi teman minum kopi atau teh hangat saat silaturahmi di beranda rumah.

Rasa gurih alami dari kelapa parut menghadirkan nostalgia mendalam mengenai kehangatan keluarga dan kesederhanaan masa lalu.

>>> Persita Tangerang Resmi Lepas Bae Sin-yeong Setelah Lima Tahun

Saat ini, keberadaan kuliner tersebut mulai langka karena proses pembuatan yang lama membuat generasi muda beralih pada makanan yang lebih praktis.