Kebijakan penyesuaian harga kedua dari Rolex pada tahun ini mengejutkan para pelaku industri jam tangan.

Dealer jam tangan bekas bersertifikat di Amerika Serikat, Eric Boneta, memberikan tanggapannya mengenai situasi tersebut.

"Tidak ada yang memperkirakan hal ini akan terjadi," kata Eric Boneta.

Meskipun demikian, para analis industri melihat pasar jam tangan mewah tetap mampu mempertahankan performa penjualan mereka.

Hal itu terjadi karena produk premium dipasarkan sebagai aset investasi langka bagi kalangan ultra kaya, sementara konsumen kelas menengah mulai mengurangi belanja barang mewah.

Berdasarkan data WatchCharts, Rolex sebelumnya telah menaikkan harga rata-rata produknya sebesar 6,2% pada Januari di Jerman, Hong Kong, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

>>> NQI dan StarWiz Technology Jalin Kerja Sama Kembangkan Komputasi Kuantum

Pihak Rolex menolak memberikan komentar terkait kebijakan harga tersebut, sementara Richemont belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.

Lonjakan Harga Emas Dunia Jadi Pemicu Utama

Faktor utama di balik penyesuaian harga ini adalah nilai emas dunia yang tercatat hampir dua kali lipat sejak 2024 hingga berada di kisaran US$4.200 per troy ounce.

Pendiri perusahaan riset barang mewah Data&Data, Zouheir Guedri, menyebutkan harga jam tangan emas dari berbagai merek seperti Rolex, Richemont, LVMH, Swatch, Breitling, dan Chopard rata-rata naik 4% hingga 6% dibanding setahun lalu.

Produsen jam tangan mewah saat ini berupaya memaksimalkan penjualan kepada segmen konsumen elit yang masih memiliki daya beli tinggi.

Zouheir Guedri menjelaskan strategi yang diambil oleh perusahaan-perusahaan jam tangan mewah tersebut dalam menghadapi situasi pasar saat ini.

"Mengarahkan para pelanggan untuk memilih produk berbahan logam mulia dan referensi kelas atas," ujar Zouheir Guedri.