Berdasarkan data yang dipaparkan, sekitar 64 persen Gen Z di Indonesia saat ini mengalami stres finansial.

Kondisi tersebut memicu fenomena doom spending atau belanja impulsif akibat pesimisme masa depan, yang didorong oleh kenaikan biaya hidup sebesar 53 persen, keinginan merasa lebih baik 35 persen, dan utang impulsif 32 persen.

Untuk mengatasi hal tersebut, pengelolaan keuangan yang sehat memerlukan perubahan pola pikir mendasar.

>>> Yayasan Prima Ardian Tana Gelar Drama Musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari

Alokasi dana untuk tabungan maupun investasi harus ditempatkan sebagai kewajiban di awal, bukan menyisakan dari pengeluaran konsumtif.

Mahasiswa juga diarahkan untuk menyusun tujuan keuangan berdasarkan skala waktu, serta membangun dana darurat likuid dengan target tiga hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

Terkait instrumen utang, prinsip kehati-hatian harus diterapkan dengan memastikan pinjaman hanya digunakan untuk kegiatan produktif.

"Gen Z sangat dipengaruhi influencer finansial, padahal hanya 28% yang rutin memverifikasi nasihat tersebut.

Saya mengajak Gen Z menerapkan Soft Saving, yaitu tetap menabung namun tetap menyisihkan uang untuk kebahagiaan dan kesehatan mental," jelas Nixon.

Sebagai solusi digital untuk memenuhi kebutuhan generasi muda, BTN telah meluncurkan SuperApp Bale by BTN.

Aplikasi ini telah mencatatkan 4,22 juta pengguna dengan total 51,5 juta transaksi senilai Rp55,45 triliun hingga Mei 2026.

Mayoritas nasabah platform digital ini didominasi generasi muda, yakni Milenial sebesar 42,4 persen dan Gen Z sebanyak 37,7 persen, dengan fitur QRIS Payment sebagai transaksi yang paling sering digunakan.

"Melalui literasi keuangan yang baik dan dukungan layanan digital yang inklusif, kita ingin menyiapkan generasi muda yang tidak hanya melek finansial, tetapi juga memiliki daya saing global," tegas Nixon.