Lembaga riset pasar TrendForce memperkirakan industri smartphone global akan menghadapi tekanan lebih besar pada kuartal kedua 2026.

Hal ini disebabkan oleh menipisnya persediaan memori murah serta kenaikan harga DRAM dan NAND.

>>> Sooyoung SNSD dan Jung Kyung Ho Putus Setelah 14 Tahun Pacaran

Kenaikan harga komponen penting tersebut terus menggerus margin keuntungan para produsen ponsel di seluruh dunia.

"Seiring habisnya persediaan memori berbiaya rendah, produsen smartphone akan menghadapi tekanan biaya yang semakin besar," tulis TrendForce dalam laporannya, dikutip dari Bloomberg Technoz pada Rabu (10/6/2026).

Dampak lonjakan harga memori pada kuartal pertama masih relatif terbatas karena sebagian besar produsen mengandalkan stok lama.

Namun, situasi diperkirakan berubah mulai kuartal kedua seiring menipisnya persediaan komponen murah.

Pada awal kuartal 2026, produksi smartphone global tercatat mencapai 284 juta unit, turun 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, TrendForce memproyeksikan total produksi smartphone global sepanjang tahun 2026 akan menyusut sekitar 16,2 persen menjadi 1,051 miliar unit.

Posisi Produsen Smartphone Global

Berdasarkan data riset, Samsung mempertahankan posisi sebagai produsen smartphone terbesar dunia pada kuartal pertama 2026.

Perusahaan asal Korea Selatan itu memproduksi 62,6 juta unit dan menguasai 22 persen pangsa pasar global.

>>> Saraf Kejepit di Punggung: Penyebab, Cara Mengobati di Rumah

Apple menempati posisi kedua dengan volume produksi 60,2 juta unit dan pangsa pasar 21 persen.

Meskipun produksinya turun 31 persen dibanding kuartal sebelumnya akibat faktor musiman, Apple mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 20 persen berkat peningkatan produksi iPhone generasi terbaru dan peluncuran iPhone 17e.

OPPO memproduksi 29,5 juta unit dengan pangsa pasar 10 persen, disusul Xiaomi sebanyak 26 juta unit (9 persen), dan vivo sebesar 22 juta unit (8 persen).