Manusia kerap merasa berjalan sendirian ketika doa belum terkabul, masalah datang bertubi-tubi, dan ketenangan hati mulai hilang.

Berbagai pertanyaan tentang alasan ujian yang tak kunjung usai sering muncul dalam benak.

>>> Venezuela Kalahkan Irak 2-0 dalam Laga Persahabatan

Al-Qur'an sebenarnya telah menyediakan jawaban serta ketenangan bagi jiwa yang lelah jauh sebelum manusia menghadapi persoalan tersebut.

Kitab suci ini menyimpan janji Allah SWT yang menegaskan bahwa setiap kesulitan membawa hikmah tersendiri.

Ulama sufi besar, Ibnu Athaillah As-Sakandari, dalam kitab Al-Hikam memberikan pengingat bahwa manusia sering mencari bantuan ke berbagai tempat saat ditimpa cobaan, namun melupakan Zat yang mengatur segalanya.

"Jangan mengadukan musibah kepada selain Allah, karena Allah-lah yang menurunkannya."

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati melalui syarah Al-Hikam menjelaskan bahwa setiap persoalan hidup sejatinya bertujuan untuk mengembalikan hamba kepada Allah SWT.

Ketika semua jalan terasa buntu, manusia diposisikan untuk menyadari bahwa hanya Allah tempat bersandar yang tidak mengecewakan.

Delapan Janji Allah SWT dalam Al-Qur'an

Pertama, beban ujian sesuai kemampuan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah: 286, "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya."

Tafsir Ibnu Katsir memaparkan ayat ini sebagai wujud kasih sayang Ilahi.

Kedua, kemudahan yang menyertai kesulitan. QS Al-Insyirah: 5-6 menegaskan, "Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan."

Pengulangan kalimat tersebut menjadi penegasan bahwa satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan banyaknya kemudahan.

Ketiga, kedekatan Allah yang luar biasa. QS Qaf: 16 menyatakan, "Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa kesadaran akan kedekatan ini menjadi fondasi ketenangan terbesar bagi orang beriman.