Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 7,57 persen ke level 5.746 pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Penguatan tajam ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

>>> Kementerian PU Targetkan Penggunaan Aspal Buton Capai 100 Persen pada 2029

Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal membaiknya sentimen pasar keuangan domestik.

Namun, ekonom mengingatkan bahwa pemulihan arus investor asing membutuhkan faktor pendukung yang lebih luas.

Faktor Fundamental Jadi Pertimbangan Investor

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang, Esther Sri Astuti, menyatakan keberlanjutan penguatan pasar modal bergantung pada kemampuan menarik kembali aliran modal asing.

Menurutnya, masuknya dana investasi global dalam jumlah besar akan mempertebal cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai tukar rupiah tidak terdepresiasi," ujar Esther, Selasa (9/6/2026).

Pada perdagangan yang sama, rupiah ditutup menguat 170 poin atau 0,94 persen ke posisi Rp18.000 per dolar AS.

Esther menyebut sejumlah faktor fundamental yang menjadi pertimbangan investor global, antara lain kepastian hukum, prospek pertumbuhan ekonomi, ketersediaan bahan baku, dan ekosistem usaha yang mendukung.

Pelaku pasar juga melihat integrasi rantai pasok global, kualitas infrastruktur dasar, serta harmonisasi regulasi pusat dan daerah.

>>> Kevin De Bruyne Siap Bela Belgia di Piala Dunia 2026

"Jika ketujuh faktor tersebut bisa dipenuhi, maka aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal domestik," katanya.

Ia menambahkan bahwa stabilitas di level kementerian turut memberikan sinyal positif bagi penanam modal.