Pemerintah Amerika Serikat kembali memperbarui daftar perusahaan China yang dinilai mendukung militer Beijing.

Raksasa e-commerce Alibaba, mesin pencari Baidu, serta produsen kendaraan listrik BYD dan NIO masuk dalam daftar tersebut.

>>> 121 Nama Bayi Perempuan Bahasa Italia yang Indah dan Maknanya

Kebijakan ini menggantikan daftar sebelumnya yang dirilis awal 2025.

Langkah ini diambil kurang dari sebulan setelah Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk menjaga stabilitas hubungan dagang.

Kementerian Luar Negeri China menilai daftar itu diskriminatif dan menekan perusahaan China secara tidak masuk akal.

Juru Bicara Kemlu China Lin Jian menyatakan China akan mengambil langkah untuk melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan tersebut.

Perusahaan Teknologi Besar Masuk Daftar

Daftar terbaru mencakup sejumlah perusahaan teknologi terbesar China yang dianggap berperan dalam meningkatkan kemampuan militer dan industri negara tersebut.

Langkah ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap persaingan geopolitik.

Sebelumnya, Pentagon sempat menerbitkan pembaruan daftar Chinese Military Companies (CMC) pada Februari lalu saat kunjungan Trump ke China masih dipersiapkan, namun kemudian ditarik.

Versi terbaru ini pada dasarnya sama dengan daftar Februari, dengan tambahan dua produsen chip memori terbesar China, CXMT dan YMTC.

Selain itu, pemerintah AS juga memasukkan perusahaan bioteknologi WuXi AppTec, perusahaan robotika RoboSense Technology, serta Unitree yang dikenal sebagai produsen robot humanoid.

Pada 1 Juni lalu, Nvidia mengumumkan kerja sama dengan Unitree untuk mengembangkan robot bagi peneliti.

Reaksi Perusahaan dan Dampak Operasional

BYD, produsen kendaraan listrik terbesar di dunia berdasarkan penjualan, menyatakan keberatan keras.

Perusahaan akan menggunakan seluruh upaya administratif dan hukum untuk melindungi hak dan kepentingannya, serta menilai keputusan tersebut merugikan pencapaiannya di AS.