Mumi Ötzi si Manusia Es yang berusia 5.300 tahun ternyata menjadi tempat tinggal bagi ekosistem mikroba yang dinamis.

Sejumlah mikroorganisme di dalam dan luar tubuh mumi tersebut diketahui mampu bertahan hidup selama ribuan tahun.

>>> Lebih dari 500 Ribu ARMY Ikut War Presale Tiket Konser BTS Jakarta

Melalui analisis DNA, para ilmuwan berhasil mengaitkan beberapa spesies jamur dengan kawasan pegunungan dingin tempat Ötzi meninggal.

Jamur yang mendiami jasad tersebut ikut membeku dan berada dalam kondisi dorman akibat daya tahan alaminya terhadap suhu dingin.

Mikroba-mikroba ini diperkirakan berkembang biak secara perlahan pada kantong-kantong kelembapan kecil di tubuh mumi.

Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas mikroba pada jasad purba memiliki durasi yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Para peneliti berhipotesis bahwa Ötzi melewati momen terakhirnya di Pegunungan Alpen Ötztal tanpa kehadiran manusia lain.

Meski demikian, terdapat triliunan mikroba yang mendiami tubuhnya sejak hidup hingga menetap menjadi mayat.

"Mikroba-mikroba ini memberi kita gambaran unik dan berharga tentang rupa usus manusia pada Zaman Tembaga, sebelum industrialisasi mengubah mikrobioma kita," ujar penulis senior studi tersebut, Frank Maixner, kepala Institute for Mummy Studies di Eurac Research, Bolzano, Italia.

"Kami mengidentifikasi bakteri usus purba terawetkan di tubuh Ötzi, yang sangat langka ditemukan pada orang yang menjalani gaya hidup modern dan terindustrialisasi saat ini meski bakteri tersebut masih dapat ditemukan pada orang-orang dengan cara hidup tradisional yang belum terindustrialisasi," jelas Maixner kepada CNN.

Jasad Ötzi kini disimpan di South Tyrol Museum of Archaeology sejak ditemukan oleh para pendaki pada tahun 1991 di perbatasan Austria-Italia.