Melalui instrumen Cloudflare Radar yang sama, persentase pengguna manusia di Indonesia masih memimpin di kisaran 54 persen, sedangkan pergerakan bot berada di angka 46 persen.

>>> Trafik Robot Dominasi Internet Global, Lampaui Manusia untuk Pertama Kali

Data tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih mengakses halaman situs web secara manual tanpa mengerahkan bantuan robot atau chatbot AI.

Selain itu, akses internet domestik didominasi oleh gawai mobile.

Porsi akses melalui perangkat mobile di Indonesia menyentuh angka 61,5 persen, diikuti oleh perangkat desktop sebesar 38,5 persen.

Angka ini bertolak belakang dengan tren global yang mencatatkan desktop sebesar 60 persen dan mobile 40 persen.

Temuan statistik terbaru ini kembali memicu perdebatan hangat mengenai Dead Internet Theory.

Teori yang berkembang sejak akhir dekade 2010-an ini berspekulasi bahwa mayoritas interaksi di internet digerakkan oleh bot, bukan manusia.

Pandangan tersebut awalnya dinilai terlalu berlebihan oleh sebagian besar kalangan.

Kendati demikian, kehadiran AI generatif beserta agen AI yang makin mandiri membuat hipotesis tersebut dipandang kian relevan dengan realitas digital.

Sebagai salah satu penyedia infrastruktur keamanan dan jaringan terbesar, Cloudflare mengumpulkan data Radar dari seperlima total lalu lintas internet dunia.

Hal ini menjadikan kompilasi data tersebut sebagai indikator kuat bagi tren global.

Menyikapi perkembangan tersebut, Matthew Prince memproyeksikan adanya pergeseran model bisnis pengelolaan situs web di masa depan.

Skema baru diprediksi akan mengarah pada sistem bayar untuk merayap atau "pay to crawl".

Melalui mekanisme operasional ini, setiap korporasi pengembang kecerdasan buatan maupun penyedia bot diwajibkan menyetor biaya komersial.

>>> Qualcomm Siapkan Dua Chipset 2nm untuk Saingi MediaTek pada 2026

Pembayaran tersebut diterapkan agar mereka bisa memperoleh izin akses dan mengambil basis data dari sebuah situs web.