Berikut salah satu doa yang sering diamalkan setelah sholat hajat, sebagaimana dikutip dalam literatur klasik seperti Hisnul Muslim:

"Lā ilāha illallāhul halīmul karīm. Subhānallāhi rabbil ‘arsyil ‘azhīm.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. As’aluka mûjibāti rahmatik, wa ‘azā’ima maghfiratik, wal ghanīmata min kulli birrin, was salāmata min kulli itsmin.

>>> Timnas Jepang Protes Fasilitas Latihan Buruk di Piala Dunia 2026

Lā tada‘ lī dzanban illā ghafartah, wa lā hamman illā farrajtah, wa lā hājatān hiya laka ridhan illā qadhaitahā yā arhamar rāhimīn."

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan pemilik Arasy yang agung.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu sebab-sebab rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keberuntungan dalam setiap kebaikan, dan keselamatan dari segala dosa.

Jangan Engkau biarkan dosa kecuali Engkau ampuni, tidak pula kesedihan kecuali Engkau hilangkan, dan tidak pula kebutuhan yang Engkau ridhai kecuali Engkau kabulkan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih."

Agar lebih tertata dan khusyuk, urutan lengkapnya adalah: menyelesaikan sholat hajat dua rakaat, membaca istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, salawat, doa hajat, dan menyampaikan permohonan pribadi kepada Allah SWT.

Hikmah Dzikir dan Doa

Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa dzikir adalah jalan untuk membersihkan hati, sedangkan doa adalah bentuk penghambaan paling jujur seorang manusia.

Dzikir menenangkan jiwa, sementara doa membuka ruang harapan. Keduanya saling melengkapi dalam membangun kedekatan spiritual antara hamba dan Allah SWT.

Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagian doa tidak langsung dikabulkan. Dalam ajaran Islam, hal ini tidak selalu berarti doa ditolak.