Sebanyak 1.700 pelaku seni siap meramaikan Pagelaran Sabang Merauke yang akan digelar pada 21-23 Agustus 2026 di Indonesia Arena, kawasan GBK, Jakarta Pusat.

Acara tahun ini mengusung tema Hikayat Srikandi Nusantara. Tema ini berfokus pada kisah perjuangan perempuan dalam cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.

>>> Pesulap Merah Datangi Keraton Gunung Kawi untuk Edukasi Mitos Pesugihan

Pagelaran ini merupakan edisi ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2022. Tahun lalu, dengan tema Hikayat Nusantara, acara melibatkan 1.500 pelaku seni dan menarik 28.000 penonton.

Eksekutif Produser Pagelaran Sabang Merauke, Silvi Liswanda, mengatakan keterlibatan ribuan seniman mencakup berbagai unsur kebudayaan dari seluruh Indonesia.

"700 seniman ada di atas panggung, penari dari Sabang-Merauke ada 387 penari, termasuk yang lakukan audisi kemarin ada 27 penari akan menari bersama.

Lebih dari 1.500 kostum, satu penari bisa lebih dari 4-6 koreografer, dari sanggar seluruh Indonesia," ujar Silvi saat jumpa pers di Grand Indonesia East Mall, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Pementasan ini memadukan musik modern, paduan suara, karnaval, dan tari tradisional untuk menciptakan nuansa kolosal di atas panggung.

>>> Rahasia Intelijen Rilis Single Baru 'Suci Tanah Pembantaian' dengan Winky Wiryawan

"Ada Padi Reborn, Srikandi kita tahun ini ada Raisa, dan Yura Yunita Mahadewi dari tahun lalu yang sudah memukau," terang Silvi.

Sutradara Rusmedie Agus menjelaskan bahwa tema perjuangan tokoh perempuan sudah direncanakan sejak tahun lalu berdasarkan evaluasi pertunjukan sebelumnya.

"Tema ini didedikasikan untuk para ibu-ibu, anak-anak kita yang meneruskan bangsa ini. Harapannya tentu agar semua elemen mendukung tema ini," ujar Rusmedie.

Alur cerita pementasan berpusat pada tokoh Srikandi yang didampingi Limbuk, Petruk, Bagong, Zie, dan Vanilla dalam menjelajahi sejarah perempuan Nusantara.

>>> Raisa Debut di Pagelaran Sabang Merauke 2026, Siap Tampil di Indonesia Arena

Perjalanan mereka mempertemukan figur legendaris seperti Mande Rubayah, Dayang Sumbi, Mahadewi, hingga Calonarang, dengan Yuyu Kangkang sebagai simbol ancaman budaya.