Spekulasi kenaikan harga jual sepeda motor listrik muncul akibat volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi industri otomotif dalam negeri.

Chief Executive Officer (CEO) Alva, Purbaya Yudha, menyatakan perusahaan memilih bersikap realistis dalam menghadapi dinamika makroekonomi tersebut.

>>> Toyota Perkenalkan Konsep Kendaraan Listrik Roda Tiga Land Hopper

Pihaknya kini lebih memilih berfokus pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan secara internal oleh manajemen.

"Kami ikut pasar saja. Untuk hal-hal yang misalnya bisa kita kontrol, kita akan coba melakukan yang terbaik.

Tapi kalau sudah cerita kurs dan lain-lain, itu sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Ya sudah, nanti kita menerima saja, lihat Rupiahnya di mana," ujar Purbaya.

Stabilitas nilai tukar mata uang nasional dinilai sangat krusial bagi para pelaku industri untuk mempertahankan daya serap pasar.

Kondisi kurs yang stabil diharapkan mampu menyokong pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat.

>>> XPENG Resmi Akuisisi 90,1% Saham Pabrik Kendaraan Listrik ERAL

Kendati demikian, Alva memandang adopsi kendaraan roda dua bertenaga listrik di Indonesia masih memiliki prospek cerah ke depan.

Ketegangan geopolitik global dan konflik Timur Tengah yang berisiko menaikkan harga bahan bakar minyak justru diproyeksi menjadi momentum peralihan masyarakat ke kendaraan ramah lingkungan.

Efisiensi operasional harian moda transportasi berbasis baterai ini juga diklaim sudah terbukti jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar fosil.

"Untuk beberapa use case, pemakaian motor listrik itu memang ternyata lebih affordable dibandingkan dengan pemakaian bensin. Dan ini seharusnya juga sudah dirasakan oleh masyarakat secara luas," ucap Purbaya.

Alva juga menilai adopsi kendaraan listrik di Indonesia masih prospektif, terutama dengan efisiensi biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kendaraan bensin.

>>> Tips Membeli Mobil Bekas Usia Muda agar Untung dan Aman

Purbaya menambahkan bahwa keunggulan biaya ini sudah dirasakan masyarakat luas.