Jika prediksi Lu Weibing menjadi kenyataan, peta persaingan pasar ponsel pintar di China dipastikan akan bergeser.

Tantangan kenaikan harga memori dan komponen pendukung ini juga diprediksi menular ke vendor kompetitor, seperti Oppo, Vivo, hingga Honor.

Kondisi ini menjadi tantangan besar karena produsen China selama ini dikenal agresif dalam menetapkan harga terjangkau.

Peringatan serupa sebenarnya bukan pertama kali dilontarkan Lu Weibing.

Sejak akhir tahun lalu, ia sempat menyebut konsumen kemungkinan harus menanggung penyesuaian harga eceran karena sebagian beban produksi dialihkan ke harga jual.

Menurut penilaiannya, penyesuaian harga di tingkat retail saja masih belum cukup menutup seluruh beban biaya produksi yang kian membengkak.

Pada Agustus 2025, ia juga menyoroti tajamnya kenaikan harga memori yang mempersulit perusahaan mempertahankan harga kompetitif.

Situasi ini diperkuat oleh keluhan pengguna mengenai harga awal Redmi K90.

Ponsel tersebut dijual dengan harga 2.599 yuan atau sekitar Rp 6,1 juta untuk varian RAM 12/256 GB, lebih tinggi dari pendahulunya Redmi K80 yang dibanderol 2.499 yuan atau Rp 5,8 juta.

Kenaikan harga pada model tersebut memperkuat indikasi bahwa lini ponsel kelas menengah Xiaomi ke depan akan mengalami penyesuaian harga yang lebih agresif.

>>> Harga iPhone Terbaru 18 Mei 2026: Stabil dengan Penurunan di Beberapa Tipe

Perkembangan ekonomi dalam berita ini perlu dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat, pelaku usaha, dan pasar.

Perubahan harga, nilai tukar, maupun sentimen investor dapat memengaruhi keputusan konsumsi dan strategi bisnis harian.

Pelaku usaha biasanya akan mencermati kondisi tersebut untuk menyesuaikan stok, harga jual, serta rencana pembelian. Sementara itu, konsumen perlu memperhatikan perubahan biaya agar pengeluaran tetap terkendali.