Rupiah Sentuh Rp 17.424 per Dolar AS, Gubernur BI Sebut Tekanan Global Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp 17.424. Pelemahan mata uang nasional itu disebut dipengaruhi kombinasi faktor global dan kebutuhan valas musiman di dalam negeri.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara khusus di Indonesia. Menurut dia, sejumlah mata uang negara berkembang juga mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam keterangannya melalui kanal YouTube Kementerian Keuangan RI, Perry menyebut kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah ikut mendorong penguatan dolar AS.

Selain itu, suku bunga Amerika Serikat yang berada di level tinggi turut membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang.

“Nilai tukar negara lain juga melemah, yaitu faktor global, kemarin saya sampaikan, karena kenaikan harga minyak, tensi geopolitik di Timur Tengah, demikian juga suku bunga Amerika Serikat meningkat tinggi di 4,41 persen, dollarnya juga kuat, dan investor asing juga lagi outflow dari seluruh negara emerging market,” ujar Perry.

>>> Video ‘Guru Bahasa Inggris’ Viral di TikTok, Netizen Diminta Waspadai Link Palsu dan Modus Pencurian Data

Faktor Musiman Tekan Permintaan Valas

Bank Indonesia juga menilai pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kebutuhan valuta asing pada periode April hingga Mei.

Perry mengatakan permintaan dolar AS biasanya naik pada masa tersebut karena kebutuhan masyarakat untuk ibadah umrah dan haji.

“Kalau lagi April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi, untuk apa? untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang ibadah umroh dan haji, Insya Allah nanti sehat, makbul, mabrur, dan kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi,” tuturnya.