"Kita menuntut untuk adanya transparansi kronologi kenapa pada akhirnya latihan dasar militer ini bisa memakan lima korban sekaligus," kata Shintya.

Ia juga mempertanyakan keterlibatan Kementerian Pertahanan dalam program yang semestinya berada di bawah kewenangan Kementerian Koperasi.

>>> Sertijab Kakorlantas, Irjen Agus Titip Pesan ke Irjen Wibowo

"Kita tahu bahwa Koperasi Desa Merah Putih itu kan di bawah Kementerian Koperasi, tapi kenapa Kementerian Pertahanan dan juga TNI pada akhirnya masuk?

Ada intrik apa di situ?" tuturnya.

Tuntutan kedua, kata Shintya, mereka mendesak adanya investigasi independen di luar institusi penyelenggara Latsarmil. Ketiga, pertanggungjawaban pemerintah atas kejadian yang merenggut lima nyawa tersebut.

"Kemudian kita juga menuntut adanya investigasi secara independen yang di luar institusi dari penyelenggara latihan dasar militer itu, sehingga kami tahu ada permasalahan apa yang harapannya ada transparansi yang jelas," ujarnya.

Berikutnya, Ksatria Airlangga juga meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun KDMP.

"Ini menjadi tuntutan utama kami, adanya evaluasi total terhadap pelaksanaan MBG ataupun KDMP yang sudah jelas kita melihat banyak sekali permasalahan yang sudah mulai timbul, baik itu kelima korban ini, kemudian kemarin juga ada pencopotan ketua BGN dan lain sebagainya," ungkap Shintya.

Shintya mengakui, informasi terakhir Latsarmil bagi calon manajer KDMP telah dihentikan menyusul insiden tersebut, dan digantikan dengan materi Pendidikan Bela Negara dan manajerial.

Meski begitu, ia menyayangkan masuknya unsur militer ke ranah yang semestinya menjadi domain sipil.

Respons Kementerian Pertahanan

Sebelumnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan telah memangkas durasi pelatihan usai lima peserta meninggal dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan mengatakan pihaknya melakukan evaluasi usai peristiwa tersebut, di antaranya merevisi program menjadi pelatihan bela negara.

"Semula mereka juga akan menjadi komponen cadangan, kami sudah tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan Bela Negara," kata Donny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7).

Dengan revisi itu, Donny mengatakan para peserta tidak lagi mendapat pelajaran terkait senjata ataupun taktik militer.

>>> Hasil Uji Coba: Cetak Gol Telat, Malaysia U-17 Tahan Imbang Indonesia

"Jadi mereka hanya diberikan pelajaran terkait dengan nasionalisme, patriotisme, disiplin, seperti mengikuti jadwal harian yang melatih disiplin waktu mereka," katanya.