Ilmuwan Kembangkan Antibodi untuk Lawan Virus Epstein-Barr yang Bersembunyi di 95% Orang Dewasa
Setelah terpapar protein gp350 dan gp42, tikus menghasilkan respons imun yang tepat. Eksperimen menghasilkan sepuluh kandidat antibodi, dua menargetkan gp350 dan delapan menargetkan gp42.
Pengujian pada model tikus lain dengan sistem imun mirip manusia menunjukkan bahwa satu antibodi penarget gp42 berhasil memblokir infeksi EBV sepenuhnya, sementara antibodi penarget gp350 memberikan perlindungan parsial.
>>> 4 Air Cooler Sharp Termurah di Shopee, Daya Listrik Mulai 50 Watt
Dampak Klinis bagi Pasien Rentan
Temuan ini sangat penting bagi pasien transplantasi. Lebih dari 128.000 orang di Amerika Serikat menjalani transplantasi organ padat atau sumsum tulang setiap tahunnya.
Prosedur ini memerlukan imunosupresi intensif yang membuat pasien rentan terhadap reaktivasi EBV.
Dalam beberapa kasus, pertumbuhan sel B yang tidak terkendali akibat virus dapat menyebabkan kanker yang mengancam jiwa, yaitu gangguan limfoproliferatif pasca-transplantasi (PTLD).
Rachel Bender Ignacio, MD, MPH, dokter penyakit menular di Fred Hutch, menekankan bahwa mencegah viremia EBV berpotensi mengurangi insiden PTLD.
Anak-anak menghadapi risiko khusus karena banyak yang belum terpapar EBV secara alami dan tidak memiliki kekebalan yang dapat diperkuat oleh antibodi rekayasa.
Langkah Menuju Uji Klinis
Paparan pertama EBV pada kebanyakan orang menyebabkan mononukleosis infeksiosa atau demam kelenjar.
Setelah infeksi awal sembuh, virus bersembunyi dalam keadaan dorman dan hanya muncul kembali jika sistem imun terganggu. Saat ini belum ada pengobatan yang disetujui untuk memblokirnya.
Sebelum antibodi ini dapat memasuki uji klinis, mereka harus melewati pengujian keamanan pada manusia yang ketat.
McGuire melihat hasil ini sebagai titik balik bagi penelitian EBV yang telah berlangsung puluhan tahun.
Crystal Chhan, mahasiswa PhD patobiologi di Fred Hutch, menambahkan bahwa terobosan ini dapat memiliki aplikasi lebih luas.
>>> MIND ID Gelar Junior Miners Fun Fest 2026, Ajak Anak Belajar Pertambangan
"Kami tidak hanya mengidentifikasi antibodi penting melawan virus Epstein-Barr, tetapi juga memvalidasi pendekatan inovatif baru untuk menemukan antibodi pelindung terhadap patogen lain," katanya.
Update Terbaru
Pemerintah Kutuk Keras Pembakaran Pesawat dan Penembakan Pilot oleh OPM
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Ronaldo Jadi Pemain Tertua Cetak Gol di Fase Gugur Piala Dunia
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Terdakwa Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu Divonis Seumur Hidup
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Pelatih Argentina: Cape Verde Lolos 32 Besar Bukan karena Kebetulan
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Karyawan Xbox Pertanyakan Strategi Asha Sharma, Pimpinannya Dinilai Terlalu Terpengaruh Twitter
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Jumat / 03-07-2026, 22:46 WIB
4 Sepeda Road Bike Rp2 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Gowes Jarak Jauh
Jumat / 03-07-2026, 22:46 WIB
Tiga Pelajar SD Raih Nilai Sempurna di Olimpiade Matematika Nasional
Jumat / 03-07-2026, 22:46 WIB
Korea Gagal di Piala Dunia 2026, KFA Minta Maaf dan Siapkan Pelatih Baru
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Kebakaran TPA Jatiwaringin Padam 30%, Petugas Gunakan Sistem Inject
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Kemendagri Minta Klarifikasi Bupati Purwakarta, Saepul Akui Kesalahan
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Amien Rais Sebut PN Jakarta Timur Pengadilan Paling Aneh se-Asia Tenggara
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Hashim Ungkap Ide MBG Sudah Digagas Prabowo Sejak 2006, Tak Akan Dihentikan
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Bank Mandiri Kumpulkan 7.000 Kantong Darah Lewat Program Donor 2026
Jumat / 03-07-2026, 22:36 WIB






