Setelah terpapar protein gp350 dan gp42, tikus menghasilkan respons imun yang tepat. Eksperimen menghasilkan sepuluh kandidat antibodi, dua menargetkan gp350 dan delapan menargetkan gp42.

Pengujian pada model tikus lain dengan sistem imun mirip manusia menunjukkan bahwa satu antibodi penarget gp42 berhasil memblokir infeksi EBV sepenuhnya, sementara antibodi penarget gp350 memberikan perlindungan parsial.

>>> 4 Air Cooler Sharp Termurah di Shopee, Daya Listrik Mulai 50 Watt

Dampak Klinis bagi Pasien Rentan

Temuan ini sangat penting bagi pasien transplantasi. Lebih dari 128.000 orang di Amerika Serikat menjalani transplantasi organ padat atau sumsum tulang setiap tahunnya.

Prosedur ini memerlukan imunosupresi intensif yang membuat pasien rentan terhadap reaktivasi EBV.

Dalam beberapa kasus, pertumbuhan sel B yang tidak terkendali akibat virus dapat menyebabkan kanker yang mengancam jiwa, yaitu gangguan limfoproliferatif pasca-transplantasi (PTLD).

Rachel Bender Ignacio, MD, MPH, dokter penyakit menular di Fred Hutch, menekankan bahwa mencegah viremia EBV berpotensi mengurangi insiden PTLD.

Anak-anak menghadapi risiko khusus karena banyak yang belum terpapar EBV secara alami dan tidak memiliki kekebalan yang dapat diperkuat oleh antibodi rekayasa.

Langkah Menuju Uji Klinis

Paparan pertama EBV pada kebanyakan orang menyebabkan mononukleosis infeksiosa atau demam kelenjar.

Setelah infeksi awal sembuh, virus bersembunyi dalam keadaan dorman dan hanya muncul kembali jika sistem imun terganggu. Saat ini belum ada pengobatan yang disetujui untuk memblokirnya.

Sebelum antibodi ini dapat memasuki uji klinis, mereka harus melewati pengujian keamanan pada manusia yang ketat.

McGuire melihat hasil ini sebagai titik balik bagi penelitian EBV yang telah berlangsung puluhan tahun.

Crystal Chhan, mahasiswa PhD patobiologi di Fred Hutch, menambahkan bahwa terobosan ini dapat memiliki aplikasi lebih luas.

>>> MIND ID Gelar Junior Miners Fun Fest 2026, Ajak Anak Belajar Pertambangan

"Kami tidak hanya mengidentifikasi antibodi penting melawan virus Epstein-Barr, tetapi juga memvalidasi pendekatan inovatif baru untuk menemukan antibodi pelindung terhadap patogen lain," katanya.