Manfaat kebijakan semakin terlihat: penjualan nasional yang melibatkan pengembalian pajak hampir dua kali lipat secara tahunan pada 2025.

Hal ini turut mendorong tren "China Travel" dan "Shopping in China".

>>> Byron Scott Beri Nilai 'B' untuk LeBron James di Lakers, Ekspektasi Lebih Banyak Gelar

Layanan Lintas Wilayah

Kebijakan baru juga dirancang agar layanan refund lebih terintegrasi antardaerah.

Seorang turis asal Singapura, Tan Sye Lea, membeli barang kena pajak senilai sekitar 26.000 yuan di Chengdu dan 170.000 yuan di Chongqing, dan menerima refund di tempat di kedua kota.

Pada 29 Juni, ia berangkat dari Bandara Internasional Chongqing Jiangbei dengan membawa formulir refund, faktur, dan barang belanjaan.

Meskipun belanja dilakukan di dua kota, proses refund berjalan lancar.

Menurut otoritas pajak Chongqing, hingga akhir Juni terdapat 363 toko refund, termasuk 78 yang menawarkan refund langsung di tempat.

Hampir 300 kasus pengakuan lintas wilayah juga ditangani selama periode tersebut.

Pada Juli 2025, Chongqing dan Sichuan mulai saling mengakui layanan refund di tempat.

Kebijakan yang diperbarui mendorong penerapan pengaturan lintas wilayah secara nasional, sehingga wisatawan asing dapat menyelesaikan prosedur refund di pelabuhan keberangkatan di luar tempat mereka berbelanja.

Zheng Rong, peneliti di Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional, mengatakan belanja wisatawan asing di China untuk makan, akomodasi, transportasi, wisata, belanja, dan hiburan dapat menciptakan lapangan kerja, pendapatan pajak, dan manfaat ekonomi lainnya.

Konsumsi semacam itu memiliki dampak ekonomi yang lebih luas daripada ekspor barang saja.

Zheng menambahkan bahwa berbagai negara di dunia tengah mengoptimalkan sistem pengembalian pajak dan meningkatkan lingkungan konsumsi untuk menarik wisatawan asing.

>>> Ronaldo Kagum dengan Kemenangan Dramatis Portugal atas Kroasia

Dengan sistem pengembalian pajak yang semakin nyaman dan digital, China mempercepat transformasinya menjadi "tujuan konsumsi global".