Para pengadu termasuk mantan editor hiburan Daily Mail, seorang sejarawan terkemuka, dan Dewan Perwakilan Yahudi Inggris.

>>> Luis de la Fuente Puji Kualitas Mikel Oyarzabal yang Sempat Diragukan

Keluhan-keluhan tersebut diajukan, dan perubahan-perubahan disetujui oleh museum, lebih dari 14 bulan sebelum intervensi yang dipublikasikan UKLFI.

Para pengadu berpendapat bahwa penyertaan istilah 'pendudukan Israel' dalam teks salah satu pajangan tentang bangsa Fenisia, pada era lebih dari 2.000 tahun yang lalu, akan menimbulkan kebencian dan 'membenarkan serangan terhadap orang Yahudi'.

Upaya Mempengaruhi Direktur Museum

Tokoh-tokoh terkemuka juga berupaya memengaruhi direktur museum Nick Cullinan dan ketua dewan pengawas sekaligus eks menteri keuangan Inggris George Osborne.

Dalam satu kasus, keputusan museum untuk menanggapi pengaduan pribadi dari Dewan Perwakilan dibuat kurang dari lima jam setelah pengaduan tersebut diedarkan secara internal.

Dalam email yang mendesak tanggapan cepat terhadap satu pengaduan, seorang staf museum meminta orang lain untuk 'sangat memperhatikan' peringatan pertama serangan 7 Oktober.

Namun, tidak ada perhatian yang ditunjukkan kepada warga Palestina yang menghadapi apa yang disebut PBB sebagai genosida, serta pemusnahan budaya.

Cullinan juga berusaha meyakinkan sejarawan terkemuka William Dalrymple yang terkejut dengan perubahan tersebut. Saat itu, dia mengatakan penghapusan dilakukan selama 'penyegaran galeri rutin'.

Email-email tersebut juga mengungkapkan perbedaan pendapat internal staf bahwa posisi museum itu 'kontradiktif'.

Dalam upayanya untuk meredakan kemarahan yang semakin meningkat di museum, Cullinan juga mengatakan kepada Dalrymple bahwa dia 'tidak tahu apa-apa' tentang intervensi UKLFI pada Februari 2026.

Reaksi Aktivis Pro-Palestina

Menanggapi bukti-bukti itu, Wakil direktur Kampanye Solidaritas Palestina (PSC) Peter Leary mengatakan insiden ini menunjukkan kelompok-kelompok pro-Israel secara bersamaan berupaya untuk menghilangkan semua penyebutan tentang masa lalu Palestina.

>>> Alarm Portugal Jelang Hadapi Spanyol, Statistik Miris di Balik Gol Bersejarah Ronaldo

"Sangat disayangkan, kampanye untuk menghapus sejarah Palestina ini tampaknya terjadi di tengah genosida Israel di Gaza, termasuk penghancuran yang disengaja terhadap situs-situs bersejarah, universitas, dan lembaga budaya, serta rumah-rumah, sekolah, dan rumah sakit," kata Leary.